Showing posts with label Sulawesi. Show all posts
Showing posts with label Sulawesi. Show all posts

White Sand Beach in The Islands Spermonde



Indonesia Ver. Click here

Want to dive enjoy the coral reefs? Staring at the moment sinking of the sun? Or simply bathe in the sea with a beautiful white sand beach? Come to Spermonde Islands in Makassar, South Sulawesi. The beauty of the beaches in some island in the archipelago became the main attraction of local and foreign tourists.

Spermonde archipelago is located in the western part of South Sulawesi, stretching from Pangkajene District Islands District Selayar the north to the south. There are about 120 islands in Spermonde Islands and 12 were included in the administrative area of Makassar. Some islands, such as Samalona Island, Kodingareng Keke, Barrang Caddi, and Barrang Lompo, the main destination of local and foreign tourists.

To reach the islands, provided a number of long-tail boat with outboard engine-powered 40 hp at Pier Wood Bangkoa. This dock is located right in front of Fort Rotterdam, which can be reached 15 minutes from the center of Makassar. Boat rental fees vary, Rp 500,000 to Rp 600,000, with a payload of up to 10 people per boat.

Travelling from Pier Wood bangkoang Samalona Island only takes 40 minutes. On the island covering an area of 2.3 hectares is home to about 82 people or 20 families. Each of the houses can be rented for overnight stay for Rp 150,000 to Rp 250,000 per night.

"Here there are coral reefs and fish variety of people who are very beautiful. Suitable for tourists who have a hobby of diving. Even if just a bath in the sea is quite comfortable, "said David (35), one of the tourists from Jakarta, which stay in Samalona.

Only about 20 minutes from Samalona there's more pretty small island called Pulau Kodingareng Keke which covers only 1 hectare. Unfortunately, the beauty and comfort of this island live the story.

In fact, in early 2000 the island became one of the main destinations for foreign tourists and local charm of white sand and coral reefs. Had there are five buildings on the island inn someone managed Dutch nationality, but now only a stretch of sandy soil and a few trees on the island. About two years ago manager

Kodingareng Island Keke deal with the authorities for raising the country's flag on the island. "Since then, the island Kodingareng Keke not neglected," said Siti Zubaidah, Head Barrang Caddi, Sub End Land, which oversees the island of Kodingareng Keke.

Two other islands
 
Besides Samalona and Kodingareng Keke, there are still two adjacent islands, namely the island Barrang Caddi and Barrang Lompo. Caddi Barrang Island 4 acres, inhabited by about 1,300 people, and the breadth of the island Barrang Lompo 19 acres, home to about 4,000 inhabitants.

The journey from Island to Island Barrang Caddi Barrang Lompo only takes about 15 minutes by boat. In both these islands tourists can fish, dive, and cultural tourism. Various types of fish, especially the kind of mackerel, many obtained with relative ease in the sea around the island. Around the island Barrang Lompo there are still some points that leaves beautiful coral reefs.

Compared with Samalona Island, transportation to the island and Barrang Caddi Barrang Lompo relatively cheaper and easier. Every day, there are regular cruise that connects the two islands with the city of Makassar, the passenger ship with a capacity of 30 people. The cost of going home only Rp 15,000 per person. For lodging, can be rented houses which form the majority of the stage.

The traditional ceremony
 
In addition to fishing and diving, visitors can also see the skill of the local people in making traditional boat. If lucky, tourists can witness traditional ceremonies pa'rappo, namely ceremonies while lowering the boat that finished before use at sea. Approximately 95 percent of all residents in the island's working as a fisherman.

If you want to bring a souvenir of handicrafts made from sea, such as shells, pearls, and marine animals are preserved, available in stores owned by Mohammad Saleh managed Siti Fatimah, the daughter of Mohammad Saleh. Craft sale prices ranging from Rp 10,000 to Rp 500,000 per piece.

Although it has many charming small island, the potential for marine tourism in the islands maximum not managed by the Government of Makassar. To promote the tourism potential of the islands, need cheap transportation facilities with regular shipping schedules and cultural festival held regularly. Efforts to preserve the coral reefs become selling marine tourism should also be continued.

Without a serious effort, eventually people can forget if the city of Makassar has a cluster of small islands charming with various beauty of the sea.

source: Aries Prasetyo, Kompass May 1, 2012

Read more »

Pantai Pasir Putih di Kepulauan Spermonde


English Version (click here)

Mau menyelam menikmati terumbu karang? Memandangi detik-detik tenggelamnya sang surya? Atau sekadar mandi di laut dengan pantai pasir putih yang indah? Datanglah ke Kepulauan Spermonde di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Keindahan pantai di beberapa pulau di kepulauan ini menjadi daya tarik utama wisatawan lokal dan asing.

Kepulauan Spermonde terletak di bagian barat Sulawesi Selatan, membentang dari Kabupaten Pangkajene Kepulauan arah utara hingga Kabupaten Selayar di selatan. Ada sekitar 120 gugusan pulau di Kepulauan Spermonde dan 12 di antaranya termasuk dalam wilayah administratif Kota Makassar. Beberapa pulau, seperti Pulau Samalona, Kodingareng Keke, Barrang Caddi, dan Barrang Lompo, menjadi tujuan utama wisatawan lokal dan asing.

Untuk menuju pulau-pulau tersebut, tersedia sejumlah perahu ketinting dengan mesin tempel berkekuatan 40 PK di Dermaga Kayu Bangkoa. Dermaga ini terletak tepat di depan Benteng Rotterdam, yang bisa dicapai 15 menit dari pusat Kota Makassar. Ongkos sewa perahu bervariasi, Rp 500.000 hingga Rp 600.000, dengan muatan hingga 10 orang per perahu.

Perjalanan dari Dermaga Kayu Bangkoang ke Pulau Samalona hanya memerlukan waktu 40 menit. Di pulau yang luasnya 2,3 hektar ini dihuni sekitar 82 jiwa atau 20 keluarga. Setiap rumah warga bisa disewa untuk menginap dengan tarif Rp 150.000-Rp 250.000 per malam.

”Di sini masih ada terumbu karang dan ikan aneka warga yang sangat indah. Cocok bagi wisatawan yang memiliki hobi menyelam. Kalaupun hanya sekadar mandi di laut sudah cukup nyaman,” kata David (35), salah satu wisatawan asal Jakarta, yang menginap di Samalona.

Hanya sekitar 20 menit dari Samalona masih ada lagi pulau kecil nan cantik bernama Pulau Kodingareng Keke yang luasnya hanya 1 hektar. Sayang, keindahan dan kenyamanan pulau ini tinggal cerita.

Padahal, pada awal tahun 2000 pulau ini menjadi salah satu tujuan utama wisatawan asing dan lokal karena pesona pasir putih dan terumbu karangnya. Sempat ada lima bangunan penginapan di pulau yang dikelola seseorang berkewarganegaraan Belanda, tetapi kini hanya tersisa hamparan tanah berpasir dan beberapa pepohonan di atas pulau. Sekitar dua tahun lalu pengelola

Pulau Kodingareng Keke berurusan dengan pihak berwajib karena mengibarkan bendera negaranya di pulau itu. ”Sejak saat itu, Pulau Kodingareng Keke tidak terurus,” ujar Siti Zubaidah, Lurah Barrang Caddi, Kecamatan Ujung Tanah, yang membawahi wilayah Pulau Kodingareng Keke.

Dua pulau lain

Selain Samalona dan Kodingareng Keke, masih ada lagi dua pulau yang letaknya berdekatan, yakni Pulau Barrang Caddi dan Barrang Lompo. Pulau Barrang Caddi seluas 4 hektar, dihuni sekitar 1.300 jiwa, dan Pulau Barrang Lompo luasnya 19 hektar, dihuni sekitar 4.000 jiwa.

Perjalanan dari Pulau Barrang Caddi ke Pulau Barrang Lompo hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan perahu. Di kedua pulau ini wisatawan bisa memancing, menyelam, dan wisata budaya. Berbagai jenis ikan, terutama jenis tenggiri, banyak didapat dengan relatif mudah di laut sekitar pulau ini. Di sekitar Pulau Barrang Lompo juga masih ada beberapa titik yang menyisakan terumbu karang nan indah.

Dibandingkan dengan ke Pulau Samalona, transportasi ke Pulau Barrang Lompo dan Barrang Caddi relatif lebih murah dan mudah. Setiap hari, ada pelayaran reguler yang menghubungkan kedua pulau itu dengan Kota Makassar, yakni kapal penumpang dengan kapasitas 30 orang. Ongkos pergi pulang hanya Rp 15.000 per orang. Untuk penginapan, bisa menyewa rumah warga yang mayoritas berbentuk panggung.

Upacara adat

Selain memancing dan menyelam, pengunjung juga bisa melihat keahlian warga setempat dalam membuat perahu tradisional. Jika beruntung, wisatawan dapat menyaksikan upacara adat pa’rappo, yaitu upacara adat saat menurunkan perahu yang selesai dibuat sebelum dipakai melaut. Sekitar 95 persen dari semua penduduk di kedua pulau itu bekerja sebagai nelayan.

Jika ingin membawa cendera mata dari kerajinan berbahan laut, seperti kerang, mutiara, dan binatang laut yang diawetkan, tersedia di toko milik Mohammad Saleh yang dikelola Siti Fatimah, putri dari Mohammad Saleh. Harga kerajinan dijual mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 500.000 per buah.

Meskipun memiliki banyak pulau kecil yang memesona, potensi wisata bahari di kepulauan tersebut belum dikelola maksimal oleh Pemerintah Kota Makassar. Untuk mempromosikan potensi pariwisata di kepulauan tersebut, perlu dukungan sarana transportasi murah dengan jadwal pelayaran reguler dan kegiatan festival budaya yang digelar rutin. Upaya menjaga kelestarian terumbu karang yang menjadi nilai jual wisata bahari juga harus berlanjut.

Tanpa upaya yang serius, lambat laun orang bisa lupa jika Kota Makassar memiliki gugusan pulau-pulau kecil yang menawan dengan berbagai keindahan laut.


sumber : Aries Prasetyo, Kompas 01 Mei 2012

Read more »

EKSOTISME KEPULAUAN TUKANG BESI


BAGI pehobi snorkling dan diving, Wakatobi pastilah masuk dalam dattar 10 kepulauan terindah dari “negeri khatulistiwa” ini. Apa yang membuat Kepulauan Wakatobi di Sulawesi Tenggara begitu eksotis bagi para wisatawan? Kawasan pulau dan terumbu karang di sana yang masih asli dan alami sangat kaya dengan biota laut yang tak kalah indahnya. Hamparan pulau yang juga dikenal dengan sebutan Kepulauan “Tukang Besi” ini memiliki 25 gugusan terumbu karang dengan beraneka ragam spesies yang memunculkan berbagai bentuk karang yang unik dan spesifik.

Gugusan terumbu karang tersebut juga menjadi habitat berbagai jenis ikan hias dan makhluk laut lain, seperti cacing laut, moluska, dan tumbuhan laut. Beberapa jenis ikan karang yang hidup adalah ikan bendera, batona, dan napoleon. Selain itu, di sekitar kawasan Wakatobi hidup pula ikan hiu, lumba-lumba, dan paus. Begitu kaya dan uniknya kehidupan laut di Wakatobi, pada 1996, pemerintah menetapkan kawasan itu sebagai taman nasional.

Kebijakan itu menarik para ilmuwan laut untuk meneliti kekayaan terumbu karang dan biota laut di sana. Salah satu tim yang terjun ke sana adalah Yayasan Pengembangan Wallacea melalui Operasi Wallacea. Penetapan pemerintah dan laporan operasi Wallacea memancing investor swasta asal Swiss, Lorents Mader, untuk membangun sebuah bungalo bertaraf internasional sebagai sarana untuk menikmati keindahan taman laut di sana.

Bungalo yang disebut Wakatobi Dive Resort itu terletak di sebuah pulau kecil yang disebut Onemoba, persis di depan Pulau Tomia. Pembangunan Dive Resort itu ikut memicu pengembangan wisata di sana. Warga mulai memasok tenun Tomia, dan para pandai besi menyediakan benda-benda hasil kerajinan dan besi sebagai cenderamata. Selain itu, mereka juga terlibat dalam pertunjukan kesenian bagi wisatawan yang datang.

Di samping Putau Tomia, wisatawan bisa juga menikmati keindahan dasar laut di sekitar Pulau Wangi-wangi, Kaledupa, dan Binongko. Wakatobi sendiri diambil dari nama empat pulau besar di sana, yakni Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Kini di sana tercatat ada Iebih dari tujuh sarana penginapan dengan 50 lebih kamar dan 100-an tempat tidur. Wisatawan yang sudah jenuh dengan snorkling dan diving bisa menikmati pemandangan pantai, mandi sinar matahari, menyusuri gua, fotografi, dan berkemah.

Yang berjiwa petualang lebih suka datang ke Wakatobi pada Juli – September, karena pada saat itu ombak laut bisa setinggi pohon kelapa. Untuk yang mudah mabuk laut, ada baiknya datang pada bulan Oktober – Desember, agar bisa leluasa menikmati keindahan laut di kepulauan antara Laut Banda dan Laut Flores itu. Saat itu ombak relative lebih tenang. Untuk sampai ke Wakatobi, wisatawan bisa menempuh perjalanan laut lima – enam jam dengan kapal cepat dari Kendari menuju Bau-bau sebagai tempat transit.

Dari Bau-bau, wisatawan melanjutkan ke Wanci, pintu gerbang ke Wakatobi, dengan kapal laut. Sayang, perjalanan tak bisa langsung dilakukan karena jadwal penyebrangan yang terbatas. Sebagai alternaltif wisatawan dapat menempuh perjalanan darat selama tiga jam ke Lasahimu, kecamatan sebelah tenggara Bau-bau. Selanjutnya wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke Wakatobi dengan jadwal penyeberangan sekali dalam sehari, yakni pukul 06.00 waktu setempat.

Perjalanan ke Wakatobi memang tak praktis, lama, dan melelahkan. Toh, wisatawan yang tak mau tersita waktunya dapat ke Wakatobi dengan cepat, asalkan cukup berkantong tebal. Sejak 2001, kapal udara sudah menjangkau wilayah kepulauan di timur Buton itu. Kebanyakan wisatawan mancanegara yang menggunakan jasa tersebut. Itu pun hanya bisa melalui Denpasar-Pulau Tomia (Wakatobi) dengan jadwal penerbangan 11 hari sekali.

Meskipun penerbangan melalui laut relatif lama, dan lewat udara cukup mahal, jumlah waisatawan setiap tahun selalu naik. Rata-rata tiap tahun meningkat 20% dari tahun sebelumnya. Misalnya pada 2002 tercatat 540 orang, naik 22 % dari tahun2001. Pariwisata merupakan aktivitas ekonomi baru bagi Kabupaten Wakatobi, dan memiliki prospek bagus.

Dengan promosi pariwisata yang intensif dan terarah, diharapkan pada masa mendatang komoditas jasa tersebut bisa memberikan sumbangan lebih besar bagi Wakatobi. Partisipasi masyarakat Wakatobi untuk memajukan pariwisata laut juga harus terus ditumbuhkan. Salah satu caranya adalah dengan keikutsertaan mereka dalam pelestarian lingkungan alam dan laut di sana.

Ancaman kehancuran terumbu karang masih selalu membayang. Maklum, banyak masyarakat nelayan Wakatobi dan dari luar yang masih menggunakan bahan peledak dan racun untuk menangkap ikan. Kegiatan yang melanggar hukum itu telah merusak terumbu karang dan ekosistem di dalamnya. Dalam situasi demikian, masyarakat harus diberi pemahaman bahwa matinya terumbu karang berarti lenyapnya populasi ikan dan hancurnya eksostisme laut Wakatobi.



Majalah : Gatra
G.A. Guritno 

Read more »

Gundukan Karang 21 Pulau





Taman Takabonerate menyimpan rahasia kemolekan wisata laut. Diklaim sebagai karang atol terbesar ketiga di dunia. Kurang promosi?

Kawasan sangat unik dan langka. Di situ ada atol, yang terdiri dan gugusan pulau-pulau gosong karang dan rataan terumbu yang luas. Di antara pulau-pulau gosong karang, terdapat selat-selat sempit yang dalam. Sedangkan pada bagian permukaan rataan terumbu, banyak terdapat kolam kecil yang dalam dan dikelilingi oleh terumbu karang. Pada saat air surut terendah, terlihat dengan jelas daratan kering dan diselingi genangan air yang membentuk kolam-kolam kecil.

Itulah pemandangan yang bisa dinikmati bila Anda nengunjungi Taman Nasional Takabonerate. Takabonerate diambil dan tiga kata bahasa Selayar yang disatukan. Taka berarti gundukan karang, bone: pasir, dan rate yang artinya di atas. Kalau dipadukan, berarti “gundukan karang di atas pasir”. Disebut begitu, lantaran di situ ditemukan karang atol. Karang yang menyerupai cincin ini terbentuk secara alamiah oleh proses geologis yang terjadi ratusan tahun silam. Karang di Takabonerate diklaim sebagai karang atol terhesar ketiga di dunia, setelah Kwajifein di Kepulauan Marshall dan Suvadiva di Kepulauan Moldiva.

Luas karang Takabonerate sekitar 220.000 hektare. Gugusan karang itu menyimpan kekayaan biota laut seperti ikan dan terumbu karang yang sungguh elok Keindahan kian menakjubkan kalau pengunjung ikut menyelam dan snorkeling seharian di ke dalaman laut. “Ada sejumlah biota laut berupa bunga karang dan ikan yang tidak dijumpai di tempat lain seperti di Bunaken (Sulawesi Utara),” kata Riki Lasu, pengurus persatuan olahraga selam di Manado.

Terumbu karangnya indah bak akuarium yang diramaikan ribuan ikan dan tumbuhan laut. Terumbu karang seluas 500 kilometer persegi itu bisa terlihat bila air surut 1-3 meter. Ada berbagai jenis spesies karang di sana. Tercatat tidak kurang dari 261 jenis dan 17 famili karang yang sudah diidentifikasi. Seperti Pocillopora eydouxi, Montipora danac, Acropora palifera, Porites cylindrica, Pavona clavus, dan Fungia concinna. Tanaman itu hidup dan berkembang di sana. Sebagian karang itu belum terjamah manusia.

Di kedalaman tertentu, terdapat sederetan bunga karang. “Banyak penyelam menyebut bunga karang di Takabonerate jauh lebih indah. Para pengunjung belum pernah melihatnya di tempat lain,” kata Riki Lasu. Sebab, banyak binatang laut berkeliaran di bunga karang. Ada 295 jenis ikan yang hidup di karang atol.

Sebagian ikan tadi tak asing dan kerap menghiasi akuarium. Sebut saja, ikan bendera (Heniochusyaxius) dan mas laut (Myripristis melanoslictus). Sesekali tampak pula kuda laut (Hipposampus kuda), penyu sisik (Eretmochelys imbri cata) , dan penyu lekang (Dermochelys co riacea) . Tapi belum termasuk biota-biota laut dari keluarga moluska.

Sedangkan di bagian luar atol sendiri, airnya yang berwarna kebiru-biruan merupakan perairan yang cukup dalam, ditaksir lebih dar 1.500 meter permukaan.

Tak cuma karang yang bisa dilihat sebagai keindahan di Takabonerate.Juga pulau-pulau yang mengitari karang atol dan kepulauan di sana. Kepuauan yang mencakup 14 pulau kecil dan kepulau Passi Tallu dengan tujuh pulaunya.

Dan 21 nusa itu, hanya 11 yang dihuni manusia. Penghuninya berbahasa Bajo.

Sisanya masih terkesan angker. Penghuninya, antara lain, binatang melata seperti ular, burung-burung, dan pepohonan. Sebagian besar belum mendapat penerangan listrik. Daerah ini tampak membentuk atol dengan gugusan pasir putihnya. “Akan lebih indah jika langsung ke sana,” kata Farid Said, Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia CabangMakassar. Toh, banyak wisatawan yang memanfaatkannya untuk menyelam dan snorkeling.

Sesampai di sana, wisatawan tak bisa bersenang-senang di sembarang waktu. Wisatawan harus menunggu cuaca yang bersahabat. Baik untuk menyelam atau sekadar ber-snorkeling-ria. Karena perairan di daerah ini dipengaruhi oleh musim barat pada Januari-Maret. Musim timur pada Juli-September yang turut diikuti musim pancaroba di bulan April-Juni dan Oktober—Desember.

April hingga Juni dan Oktober sampai Desember tergolong hari baik untuk urusan menyelam. Tak mengherankan, Festival Takabonerate digelar pada bulan Oktober. “Kami pilih festival di bulan Oktober karena bulan inilah yang terbaik untuk berwisata bahari,” kata Farid, yang juga meneliti soal potensi kepariwisataan di Selayar. Selain itu, perlengkapan speed boat, terutama bagi mereka yang ingin menyelam, tentu sangat diperlukan dalam “pengembaraan” menyaksikan gugusan pulau itu.

Keindahan Takabonerate sudah diakui tuna wisatawan asing. Salah satunya Christopher, warga Amerika Serikat. Ia sudah lama tertarik melihat Takabonerate. Karena itu, ia membeli sebuah kapal. Kapal itu tiap tahun dipakai untuk mengangkut wisatawan asing yang ingin menyaksikan kepulauan karang. “Saya selalu membawa wisatawan dari Bali dan Lombok yang ingin menyelam di sana,” katanya kepada GATRA.

Bagaimana cara mencapai Takabonerate? Gampang. Yang tengah singgah di Makassar bisa menggunakan jalan darat, laut, dan udara ke Pulau Selayar, Sulawesi Selatan. Untuk jalan darat, bisa digunakan bus jurusan Makassar-Bulukumba sejauh 153 kilometer, ditempuh lebih kurang lima jam. Setelah itu ke Pulau Selayar dengan feri sekitar satu setengah jam.

Jalan udara bisa ditempuh dengan pesawat Cassa-200 yang melayani trayek Makassar-Pulau Selayar. Dari Selayar bisa menggunakan kapal motor selama tiga jam. Sedangkan dari Bali atau Lombok bisa menggunakan kapal pesiar.



Sumber : Majalah Gatra
Foto : Majalah Gatrra
Anthony (Makassar)

Read more »

Waruga - Warisan Makam Leluhur




Puas menikrnati keindahan Danau Tondano yang terletak dijantung Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, setir mobilpun kami arahkan ke utara menuju wilayah Airmadidi. Perjalanan siang hari itu benar-benar terasa nyaman. Gumpalan-gumpalan awan putih seakan berlomba menepis teriknya sinar mentari yang lembut menyapa. Disepanjang perjalanan, pemandangan indah yang didominasi oleh permadani hijau lahan persawahan berlatar puncak-puncak pegunungan semakin membuat perjalanan kami bagaikan berkelana di daratan surga.

Setelah berkelak kelok selama 1 jam penuh melewati wilayah pegunungan yang lembab, akhirnya kami tiba di Sawangan. Berdasarkan informasi yang kami terima sebelumnya, di daerah ini terdapat sebuah situs peninggalan purbakala yang kerap dikunjungi oleh para turis sebagai salah satu obyek pariwisata.

Peninggalan purbakala ini akrab dengan sebutan Waruga atau Sarchophagi / Sarchophagus. Walaupun letaknya agak tersembunyi di dalam, tetapi tidaklah begitu sulit menemukan situs bersejarah ini. Ada sebuah petunjuk jalan berukuran besar di sebelah kanan jalan yang membantu kami menemukan lokasi tersebut.

Peninggalan dan abad ke-9 ini sebenarnya adalah makam kuno. Dan memang benar, ketika kami tiba di lokasi, di depan kami terhampar sebuah lahan pemakaman berukuran sedang. Untuk tiba di lokasi keberadaan Waruga, kami harus melewati beberapa makam penduduk sekitar yang tertata mengelilingi Waruga. Terlihat beberapa pohon berusia renta yang berdiri enggan di tengah-tengah lokasi. Di dalam kompleks pemakaman ini terdapat sekurang-kurangnya 144 Waruga yang didampingi oleh sebentuk museum kecil. Mengikuti kepercayaan yang berlaku, keseluruhan waruga ini dibangun dengan posisi menghadap ke arah matahari terbit.

Waruga sendiri sebenarnya adalah bangunan makam batu berbentuk kotak dengan atap yang menyerupai prisma. Di tengah bangunan makam ini terdapat sebuah lubang yang cukup besar. Menurut legenda yang dipercaya, pada jaman dahulu kala, seseorang biasanya diberi firasat tertentu mengenai kapan dia akan menjumpai ajalnya. Berdasarkan wangsit yang diterimanya, mereka kemudian tanpa bantuan siapa pun membawa bongkahan bongkahan batu besar atau sarcophagus di atas kepalanya ke tempat yang sudah ditentukan.

Sarcophagus ini kemudian diletakkan di atas tanah. Setelah itu, ketika si pembawanya meninggal dunia, maka dia diletakkan di dalam lubang sarcophagus tersebut dalam posisi duduk di atas sebuah mangkuk porselen. Tradisi yang berlaku mengijinkan jenasah dihiasi oleh berbagai jenis perhiasan yang dimiliki, tetapi pemakaian baju sama sekali dilarang. Setelah itu penutup makam berbentuk prisma diletakan di atas lapisan bahan penutup.

Meski sudah ditutup sedemikian rupa, tetapi godaan untuk “memiliki” perhiasan yang dikenakan oleh sang jenasah seringkali tak terelakan. Sehingga mengakibatkan waruga-waruga tersebut dibongkar paksa oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan akhirnya kepingan-kepingan batu penyusunnya berserakan kemana-mana.

Setiap waruga dihiasi dengan berbagai ornamen pahatan yang menggambarkan jabatan si jenasah~semasa hidupnya. Ukiran-ukiran ini juga menceritakan bagaimana proses kematian yang dialami dan karakteristik sang jenasah.

Pada sebuah waruga terlihat hiasan yang melukiskan seorang wanita yang tengah menjalani proses kelahiran. Pada saat-saat tertentu, banyak wanita yang mengalami masalah kesuburan mendatangi waruga ini dan berdoa memohon untuk diberi karunia seorang anak. Setiap malam bulan purnama, penduduk yang tinggal di sekitar waruga ini melakukan prosesi upacara tertentu. Upacara ini secara khusus dipimpin oleh para tetua atau sesepuh yang dihormati.

Museum yang berada di dalam komplek pemakaman purbakala in imenampilkan contoh-contoh isi yang terdapat di dalam sebuah waruga. Ada sebuah kepercayaan tradisional kuno bahwa para leluhur suku Minahasa memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan ukuran manusia normal. Hal ini ternyata secara tidak langsung dapat dibuktikan dengan melihat berbagai perhiasan peninggalan bersejarah mereka yang memiliki ukuran lebih besar dari ukuran perhiasan pada umumnya.

Menurut paparan sejarah, pada tahun 1828, sebuah penyakit epidemic menyerang wilayah sawangan. Kondisi yang serba tidak menguntungkan ini memaksa pemerintahan kolonial Belanda melarang pelaksanaan prosesi penguburan jenasah di atas permukaan tanah seperti yang selama ini berlaku dengan Waruga.

Keberadaan waruga sebagai salah satu obyek wisata Minahasa sepertinya menyajikan dimensi lain dan arti sebuah kunjungan wisata. Datang mengunjungi waruga, bagaikan membenturkan dua arah yang berbeda, masa lalu dan masa mendatang. Kami seolah berada dalam pusaran waktu masa lalu yang menyedot dan kemudian melemparkan kami menuju masa depan yang abadi.

Anda tidak percaya ? Cobalah datang berkunjung dan alami pengalaman kami




Sumber : Majalah Archipelago -Mei-Juni 2005
Foto : Majalah Archipelago
m_pamungkas

Read more »

Popular Posts

counter