Showing posts with label WISATA JAWA TIMUR. Show all posts
Showing posts with label WISATA JAWA TIMUR. Show all posts

RAJEGWESI , "AKUARIUM " PENYU TERBUKA



Tahun 1980-an, hampir sepanjang pantai selatan Jawa menjadi habitat penyu-penyu langka seperti penyu belimbing, sisik, dan hijau. Kini setelah wilayah selatan kian ramai dengan aktivitas nelayan, habitat penyu kian terdesak. Pantai Rajegwesi menjadi sedikit dari habitat penyu langka yang tersisa. Saat liburan sekolah tempat ini layak dituju.

Pantai Rajegwesi terbentang di selatan Banyuwangi, Jawa Timur. Letaknya di perbatasan hutan dan masuk dalam Taman Nasional Meru Betiri. Butuh waktu 2-3 jam untuk mencapai kawasan tersebut dari kota Banyuwangi. Jalurnya menembus perkebunan karet dan kakao dengan kondisi jalan berbatu.

Namun pantai ini menjadi salah satu tempat habitat penyu langka, di antaranya penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu slengkrah (Lepidochelys olivacea), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Pada waktu-waktu tertentu tukik atau anak penyu yang sebelumnya telah ditangkarkan, dilepas di pantai ini untuk tumbuh dan berkembang.

Sebelumnya, penyu-penyu itu ditangkarkan di pusat penangkaran penyu pantai Sukamade. Dibandingkan dengan Rajegwesi, Sukamade jauh lebih terpencil. Akses menuju pantai tersebut hanya bisa ditempuh dengan mobil bergardan ganda atau trail. Namun justru di tempat terpencil itu, penyu-penyu bisa bertelur dengan lebih aman, minim gangguan manusia dan habitatnya pun terjaga.

Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri Bambang Darmodjo mengatakan, pada waktu malam di saat-saat tertentu, penyu mendarat di pantai untuk bertelur. ”Terkadang dua atau tiga ekor, tetapi bisa jadi 4-6 ekor penyu yang mendarat untuk bertelur. Tapi bisa jadi mereka mendarat namun tak jadi bertelur karena terusik keramaian,” katanya.

Penyu hijau misalnya, bisa menetaskan 100 butir telur di pantai. Telur-telur itu dikubur oleh induknya di pasir pantai untuk mengerami dan melindunginya dari babi hutan atau binatang lain pemangsa telur.

Kondisi pantai yang masih bersih dan sepi mendukung perkembangbiakan penyu-penyu yang kini sudah langka tersebut. Warga setempat seperti nelayan pun memberi ruang pada fauna langka. Mereka hanya menambatkan perahu di sisi barat pantai, adapun di sisi timur dibiarkan kosong dan menjadi habitat hewan-hewan seperti penyu, dan hewan laut lainnya.

Pantai Rajegwesi dan Sukamade selama ini menjadi lokasi wisata konservasi. Pada musim-musim tertentu, wisatawan dari dalam negeri dan mancanegara datang khusus untuk melihat penyu bertelur atau melepas tukik di pantai,” kata Bambang.

Seperti April lalu, Banyuwangi Turtle Sea Foundation mengajak anak-anak SD untuk melepas penyu di pantai Rajegwesi. Tukik-tukik itu berasal dari pantai Sukamade yang kemudian ditangkarkan di tempat penangkaran penyu di Ketapang, Banyuwangi.

Davina (12), salah satu anak yang ikut melepas tukik terlihat senang bukan main saat penyu kecilnya lepas dari tangan dan berlari menyambut ombak. Davina baru sekali ini melihat tukik di alam bebas. Biasanya ia hanya melihatnya di akuarium.

Kegembiraan serupa tergambar di wajah anak-anak SDN Sarongan yang ikut melepas tukik. Menurut Westin Dwi, siswa kelas VI SD Sarongan, menyaksikan penyu bertelur sudah menjadi sesuatu yang langka. Karena itu ketika ada kegiatan yang berkaitan dengan penyu mereka bersemangat untuk ikut serta.

”Telur-telur penyu dibantu untuk ditetaskan kemudian saat menjelang dewasa harus dilepas agar mereka bisa hidup di alam bebas. Suatu saat kami berharap bisa melihat penyu itu kembali dan bertelur,” kata Westin yang hidup di lingkungan nelayan.

Pendiri Banyuwangi Sea Turtle Foundation Wiyanto Hadi Tanojo mengatakan, dirinya memang mengajak anak-anak untuk melepas tukik bersama agar mereka mengenal dan lebih menyayangi hewan-hewan langka itu. Kelak, saat mereka dewasa, rasa sayang terhadap lingkungan itu diharapkan mengakar di jiwa mereka.
Penyu-penyu di Meru Betiri sendiri kini terancam punah. Tak semua telur bisa menetas, atau berkembang menjadi penyu dewasa yang bisa bertelur lagi.

Telur yang baru saja dihasilkan induk kadang habis disantap hewan lain seperti babi hutan. Tidak jarang telur penyu dicuri dan diperdagangkan. Ketika telur sudah berubah menjadi tukik, tidak serta-merta mereka bisa bertahan di alam terbuka. Mereka juga kerap menjadi mangsa elang laut atau hewan lainnya.

Berdasarkan data dari Taman Nasional Meru Betiri, sepanjang tahun 2011 saja tercatat sebanyak 979 penyu yang mendarat dan bertelur di pantai Sukamade. Jumlah telur yang ditanam sebanyak 111.718 butir, namun hanya 81.023 ekor yang menetas jadi tukik. ”Dari 1.000 tukik yang dilepas mungkin hanya seekor yang bisa bertahan hingga dewasa dan kemudian bertelur lagi,” kata Bambang.

Rajegwesi menjadi bagian dari habitat penyu di Meru Betiri. Jika pantai seperti Rajegwesi tetap terjaga ekosistemnya, penyu pun tetap punya ruang hidup yang leluasa

Oleh : Siwi Yunita Cahyaningrum
Kompas 12 Juni 2012

Read more »

INFORMASI PENDAKIAN GUNUNG SEMERU



1. Jakarta - Stasiun Kota Baru Malang (satu malam, 18-20 jam)
Naik Kereta Api, ada dua pilihan : 
- Gajayana. Kelas bisnis, berangkat dari Stasiun Gambir pukul 17:15 WIB. Harga tiket sekitar Rp. 300.000 - 400.000.
- Matarmaja. Kelas Ekonomi. Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 14.00 WIB. Harga tiket Rp. 51.000). Karena sekarang pemesanan tiket kereta semakin susah, saya harapkan Anda memesan tiket pada jauh-jauh hari(H - 30 lebih baik). Ingat pemesanan tiket harus sesuai dengan KTP Anda. 

2. Dari Stasiun Kota Baru Malang - Tumpang (1,5 - 2 jam)
Bisa langsung carter angkot ke Pasar Tumpang jika punya dana lebih atau banyak rombongan. Alternatif berikutnya dari Stasiun Kota Baru Malang naik angkot ke Terminal Arjosari (Rp. 5000), dari Terminal Arjosari dilanjut dengan naik angkot warna putih dengan tulisan TA (Rp. 6.000) menuju Pasar Tumpang.

3. Dari Tumpang - Ranupane (2 - 3 jam)
Naik Jeep, Truk, Mobil Sayur atau ojek sepeda motor (tidak disarankan). Kalau menurut saya lebih asyik menggunakan Jeep. Harga sewa Jeep Rp. 450.000 untuk satu kali jalan (Tumpang-Ranupane/ Ranupane -Tumpang). Satu kali jalan Jeep maksimal bisa menampung 15 orang, jadi per orang kena biaya Rp. 30.000. Di depan Alfamart Tumpang sudah ada mas-mas yang stand by untuk mengurus Jeep.

Read more »

KEINDAHAN MATAHARI TERBIT DI PUNCAK MAHAMERU

Anda ingin merasakan hembusan asap putih yang memesona, maka Anda harus pergi ke Puncak Mahameru, Gunung Semeru, Jawa Timur. Gunung Semeru berada di dalam kawasan konservasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ( (TNBTS) yang secara administratif pemerintahan berada di empat wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Malang, Lumajang, Pasuruan, dan Probolinggo, Provinsi Jawa Timur.

Gunung Semeru dengan puncaknya Mahameru yang berketinggian 3.678 meter di atas permukaan laut, merupakan gunung api tertinggi di Pulau Jawa. Para pendaki gunung biasanya selalu terpesona dengan keindahan alam Gunung Semeru. Apalagi setiap 15 menit sekali Puncak Mahameru yang berkawah Jonggring Seloka mengeluarkan material vulkanis berupa letusan abu. Letusan periodik itu merupakan peristiwa alam yang sangat menarik dan langka.

Ada dua jalur utama untuk menuju puncak Gunung Semeru, yaitu jalur Tumpang - Malang dan Jalur Sendoro - Lumajang. Disarankan agar tidak mendaki Gunung Semeru pada Desember hingga Februari karena pada bulan tersebut terdapat angin sangat kencang dan badai.

Bila anda ingin mencapai puncak, terlebih dahulu harus melewati beberapa rute pendakian, misalnya Ranu Pane menuju Watu Rejeng yang memerlukan waktu sekitar dua jam perjalanan pendakian. Dari Watu Rejeng, pendakian dilanjutkan menuju Ranu Kumbolo lalu Kalimati dengan melewati Tanjakan Cinta. Kalimati nerupakan tempat bekas aliran lava letusan Gunung Semeru yang sudah kering dan pendakian dilanjutkan menuju Arcopodo yang merupakan rute terakhir sebelum mencapai puncak Mahameru.

Untuk menuju Puncak Mahameru, terlebih dahulu harus melalui jalanan gersang dan berpasir yang berkemiringan mencapai 70 derajat. Oleh karena itu diperlukan kehati-hatian. Setelah sekitar tiga jam pendakian. Anda akan sampai di Puncak Mahameru atau kawah Jonggring Seloka.

Arcopodo merupakan daerah yang berada di lereng Gunung Semeru dan pendaki gunung dapat mendirikan tenda sebelum melanjutkan menuju puncak dilakukan pada dini hari dari Arcopodo agar dapat sampai di puncak pada pagi hari dan melihat indahnya matahari terbit di Puncak Mahameru (Sus/S-4)

Read more »

JEJAK MAJAPAHIT DI ARGOPURO



Berkunjung  ke Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, belum lengkap jika anda belum menelusuri lereng Gunung Argopuro. Di sini tersebar peninggalan sejarah Majapahit pada abad ke-14 termasuk diantaranya Candi Kedaton, pusat pertapaan penganut Hindu sekte Syiwa. Punden berundak turut melengkapi pesona alam sekitar.

Embusan angin dingin mengiringi perjalanan kami pada suatu sore awal Maret lalu. Jalan aspal kampong selebar 2-3 meter menjadi titian di antara jurang terjal yang mengapit di kanan-kiri jalan Gunung Argopuro.

Beberapa kali kami harus menahan napas. Detik-detik mendebarkan terjadi setiap berpapasan dengan truk-truk besar pengangkut batang-batang sengon dan sapi perah.

Pohon durian, manggis, dan sengon menemani hampir sepanjang perjalanan naik turun dan berkelok di Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, salah satu wilayah di lereng barat laut Gunung Argopuro.

Di tepi Jalan Raya Kedaton, desa Andungsari, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, kami harus melanjutkan perjalan dengan berjalan kaki sejauh 1 kilometer.

Meniti jalan setapak menembus rumpun tanaman kopi sambil mendengarkan gemericik air sungai, membuat hati yang semula berdebar-debar menjadi damai.

Di ujung jalan tampak sebuah candi yang sudah tidak lagi utuh. Tubuh dan pemuncaknya tak terlihat. Tersisa kaki dan batur (alas) candi. Candi di Kedaton ini diketahui berasal dari masa akhir Majapahit abad ke-14.

Meski begitu, keelokan candi yang disebut Candi Kedaton itu tidak turut hilang. Hampir ditiga sisinya terdapat cerita relief yang menyimpan misteri masa lalu, yaitu kisah Arjunawiwaha di sisi Barat, kisah Garudeya di sisi Selatan, dan kisah Bhomantaka di sisi timur. Semua kisah tersebut terkait dengan kehidupan pertapaan atau karesian.

“Keberadaan candi ini menjadi salah satu penanda penting kawasan di Lereng Argopuro ini. Daerah sini dahulu bisa dibilang merupakan kawasan pertapaan atau karesian dan bisa jadi juga merupakan suatu kawasan otonom kecil yang keberadaannya diperhitungkan oleh penguasa Majapahit.” Tutur sejarawan dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono.

Pada zamannya, daerah tersebut diduga menjadi pusat aktivitas masyarakat Hindu, khususnya sekte Syiwa. Perkembangan agama Hindu sekte Syiwa ditunjukkan pada relief batur candi Kedaton sebelah kiri, yang menggambarkan kisah Arjunawiwaha. Di mana seseorang pertapa telanjang bertemu dengan Arjuna. Ini dipercaya merupakan salah satu budaya ekstrem Hindu Syiwa kala itu, di mana untuk bertemu dewata harus melakukan tindakan ekstrem seperti telanjang atau menyerahkan bagian tubuhnya untuk persembahan bagi  dewa.

Di seberang Candi Kedaton, melewati Sungai Tekong (berjarak lebih kurang 1 kilometer), pernah ditemukan arca Bima dengan ketinggian lebih dari dua meter. Kini arca tersebut disimpan di Museum Trowulan Mojokerto.

Menurut Dwi Cahyono, lingga besar seperti itu biasanya berada di pusat kota atau pemerintahan. Lingga merupakan sumber kekuatan magis suatu kerajaan.

“Diduga dahulu kawasan Tiris dan sekitarnya merupakan pusat peradaban Probolinggo kala itu. Bukan saja karena adanya Candi Kedaton dan arca Bima besar, melainkan di daerah sepanjang lereng Argopuro ini banyak ditemukan punden berundak sebagai salah satu peninggalan zaman megalitik, “ ujarnya.

Bahkan menurut Dwi, ramainya peninggalan sejarah di kawasan Tiris dan sekitarnya – Candi Kedaton, temuan arca Bima, punden berundak di Lereng Argopuro – dimungkinkan menjadi latar belakang penamaan Probolinggo. Nama Probolinggo diduga berasal dari kata prabha (sinar) dan lingga (dewa, dalam hal ini Syiwa). Orang setempat mengartikan Probolinggo sebagai tempat yang bersinar.

Turun dari wilayah pengunungan dengan ketinggian 600 meter di atas permukaan laut (mdpl), melewati jalan berkelok kea rah utara lebih kurang 22 kilometer, sampailah kita di wilayah pesisir pantai utara Jawa, tepatnya di daerah pajarakan.

Pajarakan pernah menjadi kota penting pada masa Majapahit. Dalam Pararaton dan Kidung Sorandaka, wilayah ini disebut menjadi benteng Mpu Nambi (Patih Amangkubhumi pertama Majapahit era Jayanegara). Benteng ini pula yang pada tahun 1316 Masehi dihancurleburkan oleh Majapahit karena Nambi dinilai memberontak terhadap Majapahit. Sayangnya sisa benteng Pajarakan ini hingga kini belum ditemukan.

Ke timur lebih kurang 5 kilometer, terdapat Candi Jabung. Candi ini juga merupakan salah satu penanda penting era Majapahit. Candi yang terletak di Desa Jabungcandi, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo ini menjadi salah satu Hayam Wuruk saat ia menempuh perjalanan ke wilayah timur pada tahun 1359 Masehi.

Singgahnya Hayam Wuruk oleh sebagian orang juga dianggap menjadi dasar penamaan Probolinggo, yaitu berasal dari kata prabu (raja) dan linggih (duduk atau berada).

Candi Jabung dibuat dari bata merah. Ukuran panjang candi 13,11 meter dan lebar 9,58 meter serta tinggi 15,58 meter. Candi berdiri pada lahan 35 x 40 meter dan setelah pemugaran lahan yang diperluas menjadi 20.042 meter persegi.

Candi ini dalam Kitab Negarakertagama pupuh XXXI menjadi salah satu persinggahan Raja Hayam Wuruk saat melakukan perjalanan ke timur. Rute Pajarakan – Jabung – Bremi – Tiris sampai Lumajang  merupakan rute utama zaman klasik di wilayah yang kini disebut Probolinggo.

Era kolonial Belanda
Perkembangan zaman terus terjadi. Pada era colonial Belanda, Tiris – Pajarakan – Jabung tak lagi menjadi pusat peradaban. Pemerintah kolonial, demi kepentingan ekonomi, akhirnya menjadikan wilayah barat, tepat di sekitar garis pantai, menjadi pusat pemerintahan. Wilayah ini sekarang berkembang menjadi kota Probolinggo.

Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo menjadi pintu masuk dan keluar berbagai produk hasil bumi yang akan dibawa ke Belanda. Pelabuhan ini menjadi sentra akhir terkumpulnya barang dari sejumlah daerah hinterland seperti Lumajang dan Jember.

Keberadaan Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo bahkan dipercaya jauh lebih awal bila dibandingkan dengan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Seiring dengan arti penting pelabuhan, pemerintah colonial Belanda mulai mengembangkan kawasan tersebut menjadi pusat kota. Dibangunlah beragam gedung. Termasuk gedung-gedung sekolah. Era colonial, Probolinggo dikenal sebagai Kota Perguruan. Ada beberapa sekolah dibangun masa itu, seperti Kwekschool (Sekolah guru) yang dibangun pada tahun 1875, OSVIA (Sekolah calon pamong praja), Normaalschool (Sekolah guru bantu), MULO ( Sekolah menengah pertama untuk orang berada), dan sejumlah sekolah Kristen.

“Di Probolinggo juga dibangun sejumlah industry, seperti Pabrik Kertas Letjes pada tahun 1939 dan pabrik shellac (bahan pelitur kayu),” ujar Ade Sidik Permana, Koordinator Museum Kota Probolinggo.

Masih demi kepentingan ekonomi, dibangun pula pabrik trem di sini. Trem difungsikan untuk angkutan orang dan barang kala itu. Probolinggo terus bersolek memancarkan prabha (sinar)-nya dari Lereng Argopuro.

Oleh : Dahlia Irawati
Kompas, 3 April 2012 

Read more »

DARI OMBAK HINGGA WANGSIT



Ingin melihat tarian ombak yang bergelora? Datanglah ke pantiai Plengkung di Banyuwangi, Jawa Timur. Rata-rata tinggi ombaknya 3 hingga 6 meter. Namun, pada Agustus dan September, tinggi ombak Samudara Indonesia ini bisa 10 meter lebih. Inilah yang membuat pantai Plengkung menjadi incaran para peelancar. Mereka tertantang ingin menaklukkan gulungan ombak yang dahyat itu.
Meskipun tidak ada akreditasi resmi, para wisatawan banyak menyebut Plengkung termasuk dalam jajaran pantai eksoktik di dunia, sejajar dengan Hawai. Nilai tambahnya : bebas ikan hiu dan tampak kemilau bila matahari terbit.
Pesisir Pantai Plengkung membujur sepanjang gotri dengan gundukan batu karang disejumlah tempat. Disebut gotri, karena butiran pasirnya besar – berdiameter 2,5 mm dan berwarna kuning. Plengkung berada di sisi salatan Jawa (ujung timur), atau 90 kilometer selatan Banyuwangi. Ia berada di teluk Grajagan. Teluk ini bisa disebut G-Land, karena berbentuk huruf G. Plengkung terletak di bagian timur Teluk Grajagan.
Kemolekan Plengkung tak sekadar keindahan ombaknya. Selain selancar; wisatawan juga bisa menikmati sejumlah binatang langka yang kadang-kadang berseliweran di sama. Lulung budeng (Trachyphithecus auratus auratus), burung merak, ayam hutan, banteng, hingga harimau. Bahkan saban Oktober-Desember, sejumlah burung asal; Australia bemigrasi ke pantai ini.
Maklum, tepat di utara Plengkung terdapat taman nasional hutan Alas Purwo. Taman nasional yang lebat ini membentang seluas 43.420 hektare. Banyak wisatawn melakukan tracking menyusuri hutan itu, atau berkemah menikmati suasana alam.

Hutan ini menyimpan cerita-cerita mistis yang bsa mengundang wisatawan untuk melongoknya. Alas Pruwo dipercaya sebagai pusat pelarian hulubalang Kerajaan Majapahit kala di serang Kerajaan Mataram Islam. Kabarnya, keris Sumelang Gandring dari Kerajaan Majapahit juga hilang di belantara ini. Tak mengherankan ada tiga gua di hutan ini yang laris diincar para pencari wangsit. Antara lain , Gua Padepokan, Gua Istana dan Pura Agung.
Bila dibilang, Pantai Plengkung sebagai tempat selancar lebih populer di luar negeri ketimbang di Tanah Air. Pada 2002, turis asing yang mengunjungi tempat ini tercatat 1.223 orang, seadangkan wisatawan domestik mencapai 18.870 orang. Pelancong lokal tidak menikmati selancar atau berjemur. Mereka tidak pula menginap, namun sekadar cari suasana pantai.

Turis Asing umumnya puas bisa datang di Plengkung. Mark Sharman, warga New South Wales, Australia, termasuk yang sangat menikmati liburannya. Pria berusia 38 tahun ini menghabiskan waktu tiga hari di Plengkung, Oktober lalu. “Sangat menakjubkan, Ini benar-benar menyatu dengan alam,”katanya kepada Gatra.

Semula Sherman bersama seorang temannya , Jonathan Andrew, cuma melancong ke Bali. Namun ia mendengar ada tempat berselancar kelas dunia yang bagus dekat Bali. Setelah diberitahu tempatnya. Ia pun langsung cabut ke Plengkung.
Ia mengikuti paket yang ditawarkan PT. Plengkung Indah Wisata yang membuka kantor di Puri Bendesa, Nusa Dua Bali. Bersama 18 pelancong lain, semuanya turis asing, pegawai swasta itu diangkut dengan speed boat dari pelabuhan Gilimanuk ke Teluk Grajagan.

Dari tambatan speed boat wisatawan menyusuri pantai sepanjang 1 kilometer menuju kamp-kamp yang sudah disediakan biro wisata. Kamp tersebut berupa bangunan sederhana, terbuat dari kayu dan bertingkat. Disekitar kamp disediakan pula restoran. Semua bahan makanan dipasok oleh biro wisata. Wisatawan tidak punya akses ke pasar atau perkampungan . Sebab jalan dari pantai Plengkung ke perkampungan terdekat di Kecamatan Tegaldlimo berjarak 60 kilometer. Itu pun menyusuri hutan dan jalan tidak beraspal.

Pantai Plengkung merupakan salah satu objek wisata yang kini dikembangkan pemerintah setempat untuk menarik lebih banyak turis. Selain Plengkung, kawah Gunung Ijen dan Pantai Sukandas termasuk yang balak jadi andalan Pemerintah Daerah Banyuwangi.
Kawah Ijen berada di ketinggian 2.800 meter di atas permukaan laut. Tempat yang terletak 32 kilomter dari Banyuwangi ini hanya bisa ditempuh melalui jalan setapak. Sementara itu, pantai Sukade berada di Taman Nasional Meeru Betiri, 100 kilometer barat daya Banyuwangi. Inilah tempat penangkaran lima jenis penyu. Pengunjung bisa menyaksikan penyu-penyu bertelur dan mandi lumpur.

Namun agaknya baru Plengkung yang sudah berhasil menarik minat wisatawan asing. Pemerintah daerah setempat sudah gencar berpromosi. Hasilnya sudah tampak. Plengkung mulai dijadikan tempat lomba selancar.
Lalu bandara perintis rencananya dibangun di Desa Blimbingsari, Kecamatan Regojampi, 320 kilomert selatan kota Banyuwangi. Tujuannya agar wisatawan makin gampang ke sana. Kalau lewat darat perjalanan agak merepotkan . Hanya 60 kilometer jalan beraspal. Sisanya tidak beraspal, dan harus melewati beberapa pos. Namun menariknya, di sepanjang perjalanan terutama di Taman Nasional Alas Purwo, akan bisa ditemui sejumlah binatang. Di Plengkung sudah pula tersedia bungalo yang jaraknya 1 kilomerter dari pantai.
Selama ini kebanyakan tamu lebih memilih jalan laut. Mereka biasanya berangkat dari Gilimanuk, Bali. Dari situ menyewa speed boat dengan tarif Rp.400.000 pertujuan. Mereka terutama wisatawan asing, memilih paket dari biro wisata. Untuk paket wisata tujuh hari lengkap dengan penginapan di kamp dan makan, tarifnya US$ 250-450. Kalu ingin lebih lama lagi, ada tambahan biaya perhari. Silahkan, mau pilih yang mana.
Mujib Rahman
Sumber : Majalah Gatra
Foto : Kompas

Read more »

MENUNGGU TERBITNYA MATAHARI DI BROMO

-->
Tak berlebihan jika gunung ini masuk dalam daftar wajib kunjung jika anda pergi ke Kota Malang Probolinggo dan sekitarnya. Keindahan alam kawasan Gunung Bromo tak perlu diragukan lagi. Ketenarannya bahkan sampai ke mancanegara.
Tempat wisata ini bisa dijangkau baik dari Malang maupun Probolinggo. Namun untuk wisata keluarga, Anda sebaiknya memilih rute dari kota Probolinggo, karenajalannya relatif lebih mulus daripada rute Malang. Dari Probolinggo jarak tempuhnya sekitar 48 km.
Yang utama untuk diingat sebelum mengunjungi tempat ini ujangan pernah lupa membawa jaket dan pakaian penghangat lainnya. Lebih-lebih jaket buat anak-anak. Soalnya hawa dinginnya bisa membuat kita menggigil.
Pintu masuk kawasan Bromo berada di Desa Cemara Lawang (2.200 m di atas permukaan laut). Ini titik terdekat dengan Bromo. Di desa ini terdapat beberapa hotel dan banyak homestay. Jika ingin menyaksikan Matahari terbit sebaiknya kita datang siang atau sore, lalu istirahat lebih dulu di hotel.
Esok paginya sebelum Matahari terbit, kita bisa pergi ke Gunung Penanjakan yang jaraknya 17 km dari Desa Cemara Lawang. Ini merupakan lokasi favorit untuk menunggu Matahari terbit dan memotret Bromo dari titik yang lebih tinggi. Sekali lagi jangan lupa membawa pakaian penghangat, jaket, penutup kepala bisa kita beli dari para pedagang di Cemara Lawang.
Selesai dari Penanjakan, kita bisa langsung turun ke Bromo. Gunung ini dikelilingi, 1autan pasir yang luas. Saking luasnya. orang yang berjalan di tempat ini hanya tampak dari jauh sebagai sebuah titik yang bergerak. Tidak bisa dibedakan apakah ia berjaIan kaki atau naik kuda.
Pada musim kemarau, lautan pasirnya menjadi sumber debu dan hanya bisa dilewati oleh mobil jelajah yang bisa kita sewa di Desa Cemara Lawang. Afternatif lain yang lebih mengasyikkan, kita bisa naik kuda dari Cemara Lawang.Tarif sewa sekitar Rp.50.000,- per ekor untuk perjalanan pergi-pulang.
Sambil terayun-ayun di atas pelana kuda di lautan pasir, kita bisa menikmati keindahan Bromo yang makin lama makin dekat. Melewati Pura Kencana yang berada persis di dekat Gunung Batok, kuda akan mengantarkan kita sampai di tangga menuju puncak Bromo.
Untuk mencapai puncak harus meniti tangga. Mereka yang jarang berolahraga dijamin ngos-ngosan ketika mendaki anak tangga itu. Tapi begitu sampai di puncaknya, persis di bibir kawah, semua energi yang kita keluarkan akan terbayar.
Titik pandang di puncak Bromo ini sesekali diserang asap belerang yang keluar dari kawah di bawahnya. Yang tak tahan bau belerang bisa terbatuk-batuk. Itu sebabnya, akan lebih baik jika kita naik ke tempat ini menggunakan penutup saluran napas. Terutama buat mereka yang punya masalah pernapasan.

Puncak ini sering tertutup kabut. Bulan Juli - Agustus merupakan bulan baik karena cuaca di kawasan ini biasanya cerah. Pada bulan-bulan itu, Bromo biasanya ramai oleh turis asing. Sebelum Matahan terbit, biasanya di puncak ini sudah ramai oleh mereka yang menunggu munculnya Matahari dan akan terus ramai sampai sekitar pukul 10.00 WIB. Keindahan kawasan Bromo bisa kita rasakan hanya dengan berdiam diri di puncaknya sambil mengamati sekeliing dan merasakan tiupan angin kencang yang terdengar berdesir bunyinya.
Jika masih punya waktu, kunjungi mata air suci di belakang Gunung Batok.
Emshol
Sumber : Majalah Intisari
Foto : Majalah Intisari

Read more »

Popular Posts

counter