Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta. Show all posts

Bertualang Ke Teluk Jakarta




Bosan berlibur di daratan? Jika iya, Anda patut menjajal sensasi petualangan bahari di sekitar Ibu Kota. Anda dapat melewatkan liburan akhir pekan ke Pulau Pramuka dan Pulau Sepa, Kabupaten

Kepulauan Seribu. Kedua pulau itu menawarkan petualangan yang berbeda.

Di Pulau Pramuka, Anda dapat melihat kehidupan masyarakat kepulauan. Pulau itu menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Seribu. Di Pulau Sepa, Anda dapat menikmati keindahan pantai pasir putih lengkap dengan taman bawah laut.

Untuk bertualang di kedua pulau itu, hanya perlu sehari. Pulau Pramuka berada di 37 mil dari Jakarta, sedangkan Pulau Sepa 54 mil dari Jakarta.

Kompas menikmati perjalanan mengesankan itu dari Dermaga 06, Marina, Jakarta Utara, Sabtu (24/4) pukul 07.30. Lepas dari Dermaga Marina, gulungan ombak kecil mengayun-ayun kapal cepat yang membawa rombongan media, pelancong, dan PT Tender Indonesia sebagai penyelenggara acara.

Melancong ke Pulau Pramuka dan Pulau Sepa berarti perpacu dengan waktu. Jika terlalu siang berangkat dari Jakarta, lebih baik Anda bermalam di salah satu pulau itu. Jika berangkat pagi, Anda dapat kembali ke Jakarta menjelang petang atau malam. Bahkan, banyak orang menyarankan menghindari perjalanan ke Kepulauan Seribu pada bulan-bulan berakhiran ber, ber, ber (September-Desember). Ombak laut terlalu besar, hanya orang pulau yang mampu menaklukkan.

Dari Dermaga Marina, hanya perlu satu jam menuju Pulau Pramuka. Begitu sampai, beristirahat sejenak. Kemudian berkunjung ke tempat penangkaran penyu sisik (Eretmochelys imbricata), bakau (Rhizophora sirosa), dan pohon butun atau pohon perdamaian (Barringtonia asiatica).

Anda juga dapat melepaskan tukik ke lautan. ”Penyu ini hanya boleh dilepas, tidak boleh dibawa pulang,” kata Salim (62), Ketua Forum Masyarakat Peduli Lingkungan.

Menjelang siang, Anda dapat mengisi perut dahulu dengan menu khas laut di Rumah Makan Nusa Keramba. Rumah makan itu seperti mengambang, berdiri di atas pulau kecil yang bernama Pulau Gosong, lima menit dari Pulau Pramuka.

Agar petualangan lebih berkesan, singgahlah di Pulau Sepa. Pulau tanpa penghuni itu khusus menjadi obyek wisata. Salah satu pelaku usaha pariwisata asal Jakarta mengelola pulau ini sejak tahun 1980. Di sekitar pulau ini, tersaji keindahan bawah laut aneka taman karang.

Bagi Anda yang tak pernah menyelam di permukaan air laut (snorkeling), PT Tender Indonesia, salah satu pengelola paket wisata ke lokasi ini, menyediakan pemandu terlatih. Si pemandu hafal lokasi taman bawah laut di Pulau Sepa.

Namun, hati-hati jangan bergesekan dengan batu karang yang tajam dan hewan laut bulu babi atau landak laut (Echinoidea). Keduanya bakal melukai kulit Anda.

Akses ke lokasi

Untuk mencapai kedua pulau tersebut, bisa melalui sejumlah tempat di antaranya dari Tanjung Kait dan Pasir Tanjung (Tangerang) serta Muara Angke dan Marina (Jakarta Utara). Anda bisa memilih lokasi pemberangkatan sesuai kenyamanan, keamanan, dan kemampuan dana.

Bagi Anda yang memiliki dana cukup, Anda dapat mengikuti paket wisata melalui PT Tender Indonesia bernama ”Backyard Adventure”. PT Tender Indonesia menyediakan kapal cepat Predator dengan kekuatan mesin 600 PK (tenaga kuda).

Peserta paket membayar Rp 800.000 per orang lengkap dengan sarana makan berat dan makan ringan. Peserta juga tidak perlu repot menyewa peralatan snorkeling, semuanya tinggal memakai.

”Kedua pulau itu paling siap sebagai tempat wisata di wilayah Kepulauan Seribu,” kata Tito Loho, Managing Director PT Tender Indonesia.

Bagi Anda yang memiliki dana berlibur cekak, Anda dapat memanfaatkan kapal kayu yang berangkat dari Muara Angke, Jakarta Utara. Dari dermaga itu, Anda hanya perlu mengeluarkan Rp 35.000 per orang sekali angkut ke Pulau Pramuka.

Sementara dari Pulau Pramuka, Anda dapat menyewa seharian penuh kapal nelayan Rp 500.000 dengan kapasitas 20 orang menuju Pulau Sepa.

Pulau Pramuka dan Sepa hanyalah sebagian dari 54 pulau yang diarahkan menjadi resor wisata oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu.

Arif Junus (38), konsultan keuangan di Jakarta, sering melewatkan akhir pekan di Kepulauan Seribu. ”Sayang, pengembangan wisata belum maksimal. Padahal ada potensi yang sangat besar. Alamnya indah,” kata Junus.


Oleh Andy Riza Hidayat
Kompas 01 Mei 2010

Read more »

Wisata Sehat di Sekitar Jakarta





Mungkin sudah sejak berminggu-minggu yang lalu Anda mencari-cari tempat mengisi liburan bagi anak-anak. Selain ke luar kota, sebenarnya di sekitar Jakarta masih ada tempat-tempat yang cukup asyik untuk mengisi waktu libur tanpa harus melulu ke mal. Ayo kita susuri....

Mencari alternatif tempat mengisi liburan bagi anak-anakdi sekitar Jakarta yang sehat dan mendidik mungkin memang tidak rnudah. Namun, bukan berarti tak ada sama sekali.

Kesadaran warga kota untuk tidak melulu mengajak anak-anak ke mal sebenarnya sudah terus tumbuh. Kesadaran ini lalu bersambut dengan munculnya sejumlah tempat alternatif tmtuk wahana bermain anak-anak. Salah satunya adalah Telaga Arwana Cibubur.

“Lagi fieldtrip di sini, seru flying fox-nya,” kata Altha (8), Kamis (4/6) di Taman Rekreasi dan Edukasi Telaga Arwana Cibubur (TAC).

Keringat membasahi seragaim pramuka yang dikenakan Aitha, siswa kelas IIB SD Islam Harapan Bunda, Pondok Pinang Jakarta Selatan. Merasa kegerahan,Altha melepas sepatunya dan kembali berlari bersama teman-temannya berlomba mencapai wahana lain di taman rekreasi yang terletak di Jalan Jambore 005/06 Harjarmukti Pondok Rangon, Cibubur, Bogor.

Kalau Aitha begitu terobsesi dengan flying fox, Almi (8) memekik seru ketika berbasah-basah di empang. Dengan jaring di tangan, Airni berteriak-teriak tampak geram dan senang berlarian di dalam kolam bertabrakan dengan sesama temannya yang berlomba menangkap ikan.

Sukses membuat seluruh tubuh basah kuyup dan satu ikan dijaring, 50 siswa dari SD Islam Harapan Bunda berebut meminta para pemandu di TAC membungkus ikan mereka.

Cukup pakai plastik saja, tetapi jangan lupa diberi air yang cukup dan ikat kuat agar tidak tumpah atau terlepas ikannya. Almi pun menenteng si ikan dengan senyum mengembang di wajahnya.

Favorit Anak Sekolah

TAC memang terbilang pendatang anyar di dunia tempat wisata untuk anak dan keluarga. Baru pada Januari 2009 TAC resmi dibuka. Namun setiap hari selalu saja ada rombongan siswa, rombongan karyawan perusahaan , maupun keluarga-keluarga yang beraktivitas sambil berlibur di sini.

Rombongan Altha dan Almi hanya satu dari ratusan rombongan siswa dari banyak sekolah di Jakarta, terutama Jakarta Timur dan Jakrata Selatan, yang memilih TAC untuk mendukung program pendidikan edutainment. Mereka dikenalkan bagaimana bekerja sama dalam outbound mini, mengenal tanaman padi yang selama ini hanya diketahui sebagai nasi terhidang di meja makan. Tertawa, berkeringat, dan tentu saja melewatkan waktu bersama. Pengetahuan didapat, pikiran anak-anak pun cerah.

Menuju TAC dari arah Jakarta mudah saja. Keluar Jalan Tol Cibubur, arahkan kendaraan Anda hingga mencapai SPBU Petronas. Belok kiri tepat di tengah-tengah antara SPBU dan Perumahan Mahogany. TAC terletak di sisi sebelah kiri jalan.

Lahan parkir yang luas menyambut pengunjung saat memasuki kompleks TAC seluas

84 hektar. Setiap satu mobil wajib membayar Rp 5.000. Wahana-wahana terpapar di depan mata, tinggal pilh saja mau flying fox, menangkap ikan di kolam, outbound mini, pemancingan, saung sawah, berperahu, menuntun kerbau membajak sawah, memacu ATV, atau menikmati hidangan di Gubug Makan Mang Engking.

“Tiket setiap wahana bisa dibeli Iangsung di tempat. Harga tiket Rp 10.000-Rp 25.000. Kalau rombongan, lebih pas kalau memilih paket program khusus untuk siswa TK hingga SMA. Orang-orang dewasa yang mau outing juga kami sediakan programnya,” kata Widodo, Wakil Manajer Operasional TAC.

Wahana dan fasilitas outbound di TAC dikembangkan oleh Hamardian yang bertindak sebagai manajer operasional. Hamardian atau akrab dipanggil Aca ini sudah berpengalaman dalam bidang outbound.

Ia memiliki dan mengelola Arena Outbound Ragunan, Kampoeng Outbound kota Wisata Cibubur, dan Arena Outbound Wulandira Serang.

Bagi penggemar arwana, TAC menyuguhkan peternakan Arwana Super Red. Dengan tiket Rp 50.000 per orang, pengunjung dipersilakan melihat langsung penangkanan arwana jenis red dragon yang banyak diekspor ke luar negeri.

Nah, tertarik? Tempat-tempat seperti TAC ini setidaknya mengingatkan orang urban untuk sekali-kali turun tanah dan berkeringat....


Sumber : Kompas 06/06/2009
Foto : Kompas
(NELl TRIANA)

Read more »

Asyiknya Bersepeda di Kota Tua



Bersepeda di bawah terik matahari di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, apa enaknya? Bisa jadi Anda yang biasa mengendarai kendaraan bermotor akan ngeri membayangkannya. Tahukah Anda, naik sepeda keliling kawasan wisata Kota Tua ternyata mengasyikkan. Tak percaya? Coba saja.

Panas terik terasa menyengat di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, pada Kamis (2/7) siang. Arus lalu lintas, seperti biasa, cukup padat. Dimyati, pengojek sepeda ontel (sebutan untuk sepeda tua) tampak tak terpengaruh sengatan panas dan padatnya lalu lintas. Dengan tenang ia terus mengayuh sepeda yang kami tumpangi. Sepeda tua itu meliuk-liuk di antara mobil, motor, dan bajaj. Terselip rasa khawatir sepeda kumbang itu akan menyenggol bagian kendaraan di sisi kiri-kanan, tetapi kelihaian lelaki berusia 50 tahun asal Pekalongan, Jawa tengah, itu pantas diacungi jempol.

Sekalipun kadang ia harus turun dari sepeda, perjalanan sejak dari depan Museum Bank Mandiri Jalan Lapangan Stasiun 1 Jakarta Barat, Toko Merah, Jembatan Gantung, Museum Bahari, Pelabuhan Sunda Kelapa, sampai Museum Fatahillah berjalan mulus. Sepanjang jalan sepeda ontel melaju mulus.

Sesekali saya membantu mengangkat tangan sebagai kode meminta jalan kepada sesama pemakai jalan saat Dimyati menyeberangi jalanan yang ramai. Pengemudi truk, mobil, atau motor pun maklum lalu mengurangi laju kecepatan untuk memberi kesempatan kami lewat.

Kawasan Kota Tua adalah wilayah tersohor di Ibu Kota. Sejak lama, ia dikenal sebagai area kaya bangunan tua bersejarah yang masuk dalam cagar budaya. Mereka yang paham sejarah berdirinya kota Jakarta pasti menganjurkan untuk pergi ke Kota Tua jika ingin melihat gambaran kota Jakarta tempo doeloe.

Anjuran tersebut benar adanya Jika hanya ingin melihat sisa bangunan sebelum kota Jakarta berdiri, cukuplah berkeliling wilayah itu untuk menikmati keindahan arsitektur bangunan kuno yang kini berstatus dalam perlindungan pemerintah.

Bila ingin serius mengetahui awal berdirinya Jakarta, masuklah ke museum atau bangunan bersejarah di kawasan itu. Cikal bakal pendirian kota Jakarta sesungguhnya berawal dan Pelabuhan Sunda Kelapa yang tetap bertahan menjadi pelabuhan rakyat.

Sekitar satu kilometer dari pelabuhan terletak Pasar Ikan Sunda Kelapa yang dahulu menjadi tempat berniaga pedagang antarsuku bangsa. Di seberang pasar yang kini menyediakan peralatan memancing bagi nelayan serta barang dagangan lain, seperti rebana, terdapat Museum Bahari.

Sekalipun tampak kurang terawat, di sini kita bisa melihat tembok tebal buatan tahun 1700-an yang menjadi benteng kota dengan daun pintu kayu asli yang unik. Museum Fatahillah wajib dikunjungi karena Anda akan mendapat gambaran kehidupan warga dan pemerintahan kota Jakarta zaman dulu. Lukisan dipajang di ruang tempat hakim bersidang untuk mengingatkan para hakim agar bertindak adil. Adapun pelaksanaan hukuman dilakukan di alun-alun (sekarang taman) Fatahillah yang bisa dilihat dari balkon museum.

Selain melihat museum-museum yang memuat sejarah kota Jayakarta (kelak berubah nama menjadi Batavia lalu Jakarta) yang pertama kali didirikan oleh Fatahillah, di kawasan Kota Tua juga ada Museum Bank Mandiri, Bank Indonesia. Ada pula Museum Seni rupa dan Keramik, Masjid Luar Batang, Museum Wayang, dan lainnya.

Letak museum ini sebenarnya saling berdekatan, tetapi karena saat ini di kawasan Kota Tua berlaku jalan satu arah, jika Anda naik mobil, lokasinya bisa menjadi lebih jauh. Dengan naik sepeda ontel, meski agak rawan, acapkali pengojek sepeda memilih jalan pintas agar lebih dekat. Persoalannya, para pengojek sering pula melawan arus walau umumnya mereka lakukan dengan amat hati-hati.

Oleh karena tak semua museum memberi info rinci, sebaiknya mintalah pemandu (guide) mendampingi saat berkeliling museum. Di museum Bahari yang menampilkan macam-macam perahu nusantara terdapat tujuh pemandu, antara lain Sukmajaya. Demikian pula di Museum Fatahillah. “Tanif pemandu biasanya Rp 25.000,” kata seorang petugas di Museum Bahari.

Bagian lain yang juga menarik dikunjungi adalah Pelabuhan Sunda Kelapa. Wisatawan melihat kegiatan bongkar muat barang dan naik sampan atau kapal motor ke ujung pelabuhan dengan tanif Rp 50.000 per perahu (bisa memuat 5 orang). Setelah sekitar tiga jam berkeliling, perjalanan dengan Dimyati berakhir. Alhamdulillah,” katanya dengan ceria saat menerima uang carter ojek yang ia minta sebesar Rp.20.000,- plus tips....

Boleh Carter Ojek atau “Ngayuh” Sendiri

Kawasan Kota Tua adalah salah satu wilayah wisata di Jakarta yang sekaligus merupakan kawasan bisnis. Wajar kalau arus lalu lintas di “kota” demikian orang menyebutnya acapkali macet atau padat sepanjang hari. Kondisi ini sering menyurutkan minat wisatawan lokal berkunjung ke sana. “Ah malas. Macet dan panas,” begitu alasan mereka.

Ratusan atau puluhan ojek sepeda yang mangkal di jalan-jalan dalam kawasan itu tetap tak menarik perhatian pengunjung untuk datang ke sana. Akhir-akhir ini komunitas sepeda ontel makin sering mengadakan acara di Kota Tua. Nah, faktor itu, ditambah perilaku pengojek sepeda yang berupaya membuat penumpangnya merasa aman, pelan-pelan mengikis ketakutan bersepeda di keriuhan lalu lintas Kota Tua.

Pengunjung Kota Tua cenderung bertambah, terutama saat libur panjang seperti sekarang. “Biasanya hanya ramai hari Sabtu dan Minggu, tetapi saat liburan sekolah pengunjung bertambah dua kali lipat,” kata Sarkawi, pemilik usaha penyewaan sepeda di Taman Museum Fatahillah, Kamis (2/7).

Sarkawi langsung mencium celah bisnis. Tahun 2004, ia membuka usaha penyewaan sepeda di Taman Fatahillah. Kini, di taman tersebut ada beberapa usaha penyewaan sepeda ontel. Wisatawan mancanegara dan lokal banyak menyewanya untuk berkeliling kawasan wisata Kota Tua atau naik sepeda hanya di sekitar taman. Sarkawi yang menyewakan 16 sepeda, sebagian di antaranya sepeda berusia di atas 50 tahun, menyediakan jasa sewa sepeda saja atau menyewakan sepeda plus tenaga pemandu wisata.

Maksudnya, bila tamu yang menyewa sepeda untuk berkeliling Kota Tua ingin diantar, ia menugaskan anaknya menemani si tamu ke mana pun. Pemandu memiliki kartu anggota yang dikeluarkan museum dan rompi baju sebagai identitas. Ia tak hanya menunjukkan tempat bersejarah, tetapi juga menceriterakan secara singkat sejarah tempat itu. Tarif sewa sepeda per jam Rp 20.000 di Taman Fatahilah. Namun, jika ingin bersepeda keliling Kota Tua, penyewa cukup membayar Rp 25.000 lalu bisa memakai sepeda sepuasnya diiringi pemandu jasa yang juga bersepeda. Penyewa juga mendapat pinjaman topi model tempo doeloe.

Apabila ragu naik sepeda sendirian, lebih baik mencarter pengojek sepeda untuk mengantar Anda pergi ke tempat-tempat bersejarah di kawasan itu. Pengojek sepeda biasanya tahu nama tempat bersejarah, lokasi, dan sedikit ceriteranya. Nah, soal tarif, silakan bernegosiasi sendiri, tetapi umumnya pengojek sepeda tidak ngotot menerapkan tanif mahal....



Sumber : Harian Kompas
Foto : Harian Kompas
Soelastri Soekirno

Read more »

Menikmati 'Selingkuh' di Pulau Pramuka




Ada satu hal yang menyenangkan tiap kali mengunjungi suatu daerah: menengok pasar tradisionalnya. lnilah tempat dan kesempatan terbaik mengenal langsung kehidupan masyarakat setempat. Kadang-kadang kita dapat kejutan unik seperti yang ada di Pulau Pramuka.

Matahari masih memicingkan sebelah matanya kala saya dan Tri menghirup udara segar yang bertiup dari laut belakang Pulau Pramuka April 2006. Bersepuluh kami memilih wisma Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu (TNLKS) sebagai tempat menginap selama berakhir pekan. Dengan ransel kecil dan dry bag (tas kedap air) berisi kamera, kami meninggalkan teman-teman yang memilih tetap meringkuk di matras nyaman pada Minggu pagi itu

Dan gerbang belakang wisma, perlahan kami menyusuri jalan-jalan kecil yang membelah deretan rumah penduduk. Pada pukul enam pagi, semua rumah sudah membuka pintu dengan sebagian penghuni terlihat di serambi. Ada yang sekadar duduk santai sambil memangku sikecil. Ada yang sudah sibuk melayani pembeli sarapan di warung kecilnya. Inilah yang kami cari. Nasi uduk berlauk lengkap - mihun goreng, telur, ikan balado, semur tahu, kentang, jengkol, sambal kacang, dan kerupuk. Rumah sebelahnya menjajakan siomai khas pulau yang dulu bernama Pu!au Elang Ini – gumpalan sagu, terigu kecokelatan dicampur cincangan ikan. Rasanya, hmm, kalah jauh dari sioinai Bandung yang ngetop itu.

Di rumah seberang, ada bangku kecil menyanggah tampah yang dipenuhi dua macam panganan kecil. Ada ce1orot, terigu sagu manis yang digulung janur membentuk kerucut. Satu lagi dibungkus daun pisang seperti lemper, ”Ini selingkuh,” kata si penjual, ibu bertubuh gempal berbalut daster, saya cicipi, oh, teryata ketan berisi ikan cincang. “Ikan kembung,” tukas sipenjual. “Ah, bohong. Paling tongkol!” timpal tetangganya yang lewat. Mereka tertawa-tawa kecil. Lumayanlah, bisa “berselingkuh” dengan bujet seribu perak. Makan dua potong pun cukup kenyang.

Di lorong-lorong kami berkali-kali berpapasan dengan ibu-ibu penjual makanan jajanan dalam gerobak. Ada bubur kacang, empek-empek, atau sukun goreng khas Pulau Pramuka. Juga penjaja sayur. Di mana pasar tradisionalnya? Ternyata diwakili ”pasar kaget” di teras sebuah rumah besar di pojok jalan. Sayur-sayuran, buah, tempe, tahu, bumbu dapur digelar berkelompok. Penjajanya ibu-ibu juga.

Puas memotret, kami kembali ke wisma, menjumpai teman-teman se menikmati sarapan nasi plus sup ayam, ikan goreng disambali , dan kerupuk ikan seharga Rp.10.000,-yang dipesan dari jasa boga wisma. ”Lebih praktis, enak, dan murah ‘kan?” simpul Ade yang mengatur perjalanan kami. ”Soalnya lengkap dengan buah dan lauknya beberapa macam.” Memang betul, tapi saya lebih suka bertualang rasa dari perburuan

Mereka belum mandi karena jadwal berikutnya adalah snorkeling di dermaga depan Pramuka. Saya memilih memisahkan diri. Lebih tertarik melihat Bu Saadah yang tinggal 200 m dari wisma, mengolah krupuk ikan,:sukun, dan dodol rumput laut yang teIah kami beli untuk oleh-oleh.

Ikut melepas tukik

“Saya hanya menghabiskan Rp 200.000,- 250.000,- untuk wisata menginap semalam di Pulau Pramuka,” Ade, rekan saya suatu saat di awal 2006. Ia sudah melakukannya tiga kali. Menarik juga untuk dicoba, walau saya mengakrabi Kepulauan Seribu untuk menyelam sejak awal 2001. Tinggal di resort macam Pulau Sepa dan Kotok Besar Barat, saya mesti merogoh kocek dari Rp.600.000,- (tak menginap) sampai Rp.1,1 juta (menginap semalam). Itu sebelum kenaikan BBM 100% sejak 5 Oktober 2005.

April 2006 itu, saya berwisata bahari dengan gaya baru . Sabtu padi pukul 06.00, kami bersepuluh berkumpul di perempatan Grogol, Jakarta Barat, lalu naik angkot no. 01 jurusan Muara Angke. “Biasanya tarif per orang Rp.3000,- tapi hanya sampai depan pusat pelelangan ikan Muara Angke. Biar diantar sampai dermaga Muara Angke, tarif kita tambah Rp 1.000 per orang,” urai Ade.

Pukul 06.30, kami naik ojek kapal kayu berukuran 20 x 5 m, semacam feriekonomi jurusan Pulau Pramuka – Pulau Panggang yang letaknya berseberangan. Kami duduk lesehan bersama 30-an penumpang lain, termasuk 20-an wisatawan Korea yang mau menginap di Vila De’Lima. Bagian belakang kapal dipenuhi berpeti-peti telur, botol kecap, saus, dan beberapa sepeda motor yang diikat erat-erat ke badan kapal. Suasananya berbeda sekali dengan speedboat 50 penumpang dalam dua baris tempat duduk yang biasa saya. tumpangi dari dermaga Marina Ancol. Dengan ojek kapal bertiket Rp 25.000,- per orang, perjalanan ditempuh sekitar 2,5 jam. Sementara dengan speedboat bertarif Rp 100.000,- per orang hanya butuh waktu satu jam untuk sampai di Pulau Pramuka.

Kami tiba di dermaga Pulau Pramuka sekitar pukul 09.00, disambut kuli gerobak yang menawarkan jasa mengangkut barang. Setelah istirahat menyejukkan diri sejenak di Wisma Balal TNLKS yang dilengkapi pendingin udara, kamar mandi di dalam, kami menuju penangkaran penyu sisik (Eretmochelys imbricata) di sebelah.

Di sini ada program semi alami, telur-telur dipindahkan dari tempat bertelur di Pulau Peteloran Timur, di ujung utara Kepulauan Seribu. “Kalau baru menetas tempurungnya masih 1unak,” kata Pak Salim, petugas TNLKS, mengambil satu tukik (anak penyu) dari salah satu ember-ember berpasir tempat penetasan. Saya elus tempurungnya, ya, benar! Pak Salim kemudian menaburkan sejumlah cincangan ikan pada tukik-tukik di bak-bak penampungan berair laut.

Beberapa tukik juga dilepaskan. “Hadapkan ke pulau, biar dia berputar mencari laut,” kata Pak Salim. Ya, ya, ada tukik yang langsung bergerak, ada yang masih ragu-ragu. Tertatih-tatih di pasir, begitu menyentuh air langsung melesat berenang. Kendati akan berkelana ribuan kilometer, penyu akan kembali ke tempat pertama ia dilepaskan untuk bertelur. “Dari 100 penyu yang dilepas, satu saja yang bisa selamat sampai dewasa, itu sudah bagus.”

Kami masih sempat menengok rumah jaring kupu-kupu di kompleks Wisma - ragam wisata pendidikan dan pelestarian terbaru di sini yang menampilkan beragam kupu-kupu hidup dari pelosok Tanah Air - sebelum mengenakan pakaian renang untuk petualangan bahari.


”Kita patungan sewa perahu Rp. 110.00,-dan tip pemandu Rp 60.000,- per hari ya,” kata Ade. Kali ini Ade memilih Elang Eko Wisata, biro wisata milik penduduk setempat . Variasi aja, dulu Ade memilih jasa dari Balai TNKLS. Perahu mengantar kami ke keramba apung milik perusahaan pemelihara bandeng, kerapu, dan udang. Ah, ribuan bandeng hilir mudik dalam tambak-tambak apung itu.

Sebelumnya kami mampir ke baliho apung Balai TNLKS yang di sekitarnya ada program pencangkokan karang milik nelayan setempat. Di sini bisa snorkeling walau harus hati-hati jangan sampai merusak karang cangkok itu.

Perjalanan berlanjut ke Pulau Semak Daun berpasir putih tak jauh dan Pulau Pramuka, Pulau Balik Layar, dan Pulau Air.

“Pemandu akan menawarkan pulau-pulau lain kalau kita sudah pernah ke situ,” kata Ade. Tak menyelam, snorkelingpun jadi untuk menikmati indahnya terumbu karang. Biaya sewa seperangkat peralatan snorkeling (masker, selang napas, kaki katak) plus rompi pelampung yang wajib pakai demi keamanan) Rp. 45.000.- untuk Sabtu dan Minggu.

Asyik juga. Saat pulang sore, ada lumba-lumba melintas di depan dermaga Pramuka! Kami menunggu Matahari terbenam sebelum kembali ke wisma, mandi, makan malam, dan tidur! Minggu siang, setelah gerombolan Ade puas ber-snorkeling lagi di dermaga Pramuka, saya bergabung dengan mereka yang telah segar sehabis mandi, siap-siap di dermaga pukul 14.00 untuk kembali ke Muara Angke dengan ojek kapal. Ransel mereka telah terisi dengan oleh-oleh khas Kepulauan Seribu: dodol rumput laut, keripik sukun, kerupuk ikan, dan tangan menenteng kotak bandeng cabut duri beku.

Di dermaga sebelah, bersandar KM Lumba-lumba, feri pemerintah yang menuju Marina Ancol. Tarifnya lebih mahal sedikit, Rp 35.000,- per orang, dengan waktu tempuh sama, 2,5 jam. Dan ada tambahan biaya masuk kawasan Ancol Rp 10.000,- per orang. Jam berangkat dan pulangnya lebih pasti, pukul 08.00 dari Marina dan pukul 14.30 dari Pramuka. Sementara ojek kapal bisa beberapa kali sehari pergi pulang.

Ingat kenakan topi!

Pada kesempatan berikutnya, saya kembali berwisata bahari ke Pulau Pramuka. Kali ini ikut rombongan Intisari bekerja sama dengan Balai TNLKS. Walau cuma perrjalanan sehari, pergi pagi pulang petang dari Marina Ancol, ada dua programnya yang saya incar: dalam perjalanan pulang akan mampir di Pulau Kotok Besar Barat dan Suaka Margasatwa Pulau Rambut. Maklum, untuk ke Pulau Rambut tak sembarangan orang bisa masuk, harus mengurus izin dulu ke PHPA Kehutanan setempat.. Jadi, Ini kesempatan yang mesti disambar.

Pulau Kotok Besar Barat adalah resort berkonsep alami. Letak pondok-pondok tamu berjauhan, dirimbuni tanaman suji, kembang sepatu, dan pepohonan khas pesisir macam kelapa dan pandan pantai yang akar gantungnya menjulang tinggi. Menyusuri pantai pasir putih yang dipenuhi kelomang , di perairan tepi di antara padang lamun, kalau jeli, kita bisa menemukan anak-anak ikan pari, tripang dan kepting.

Hewan laut memnag gemar bertelur dan membesarkan anak-anaknya di situ. Dipantai bagian belakang, ada menara pandang untuk menikmati bayangan karang di beningnya air laut yang tenang. Atau mengamati sejumlah elang bondol (Haliastur indus), Si maskot Jakarta, dalam kandang besar jaring kawat beberapa meter dari situ. Satwa-satwa itu sedang menjalani program penyesuaian pelepasliaran.

“Pakai topi, ya,” wanti-wanti petugas TNLKS kala kami mendarat di surga burung Pulau Rambut. Ya, biar kepala kita tak kejatuhan “ranjau” dari gangau blekok, pecuk ular, dan lain-lain yang berterbangan..Di sini pun ada menara pandang yang membuat kita lebih bebas mengamati elang bondol melayang. Saat menyusuri rimbunan semak menuju pantai, sempat terlihat ada biawak sedang memasuki liangnya di sekitar pohon besar.

Walau belum puas di sini, lumayanlah, kali lain saya ingin ikut rombong Sahabat Burung Indonesia untuk lebih leluasa mengamati kehidupan liar di sini. Lima belas menit kemudian kami merapat di Marina Ancol.

Note : tulisan di ambil dari perjalanan penulis pada tahun 2006. Untuk biaya tranportasi dan akomodasi, sedikit mengalami perubahan.


Sumber : Majalah Intisari
Foto : Majalah Intisari
Christantiowati

Read more »

Popular Posts

counter