Showing posts with label Edukasi. Show all posts
Showing posts with label Edukasi. Show all posts

RAJEGWESI , "AKUARIUM " PENYU TERBUKA



Tahun 1980-an, hampir sepanjang pantai selatan Jawa menjadi habitat penyu-penyu langka seperti penyu belimbing, sisik, dan hijau. Kini setelah wilayah selatan kian ramai dengan aktivitas nelayan, habitat penyu kian terdesak. Pantai Rajegwesi menjadi sedikit dari habitat penyu langka yang tersisa. Saat liburan sekolah tempat ini layak dituju.

Pantai Rajegwesi terbentang di selatan Banyuwangi, Jawa Timur. Letaknya di perbatasan hutan dan masuk dalam Taman Nasional Meru Betiri. Butuh waktu 2-3 jam untuk mencapai kawasan tersebut dari kota Banyuwangi. Jalurnya menembus perkebunan karet dan kakao dengan kondisi jalan berbatu.

Namun pantai ini menjadi salah satu tempat habitat penyu langka, di antaranya penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu slengkrah (Lepidochelys olivacea), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Pada waktu-waktu tertentu tukik atau anak penyu yang sebelumnya telah ditangkarkan, dilepas di pantai ini untuk tumbuh dan berkembang.

Sebelumnya, penyu-penyu itu ditangkarkan di pusat penangkaran penyu pantai Sukamade. Dibandingkan dengan Rajegwesi, Sukamade jauh lebih terpencil. Akses menuju pantai tersebut hanya bisa ditempuh dengan mobil bergardan ganda atau trail. Namun justru di tempat terpencil itu, penyu-penyu bisa bertelur dengan lebih aman, minim gangguan manusia dan habitatnya pun terjaga.

Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri Bambang Darmodjo mengatakan, pada waktu malam di saat-saat tertentu, penyu mendarat di pantai untuk bertelur. ”Terkadang dua atau tiga ekor, tetapi bisa jadi 4-6 ekor penyu yang mendarat untuk bertelur. Tapi bisa jadi mereka mendarat namun tak jadi bertelur karena terusik keramaian,” katanya.

Penyu hijau misalnya, bisa menetaskan 100 butir telur di pantai. Telur-telur itu dikubur oleh induknya di pasir pantai untuk mengerami dan melindunginya dari babi hutan atau binatang lain pemangsa telur.

Kondisi pantai yang masih bersih dan sepi mendukung perkembangbiakan penyu-penyu yang kini sudah langka tersebut. Warga setempat seperti nelayan pun memberi ruang pada fauna langka. Mereka hanya menambatkan perahu di sisi barat pantai, adapun di sisi timur dibiarkan kosong dan menjadi habitat hewan-hewan seperti penyu, dan hewan laut lainnya.

Pantai Rajegwesi dan Sukamade selama ini menjadi lokasi wisata konservasi. Pada musim-musim tertentu, wisatawan dari dalam negeri dan mancanegara datang khusus untuk melihat penyu bertelur atau melepas tukik di pantai,” kata Bambang.

Seperti April lalu, Banyuwangi Turtle Sea Foundation mengajak anak-anak SD untuk melepas penyu di pantai Rajegwesi. Tukik-tukik itu berasal dari pantai Sukamade yang kemudian ditangkarkan di tempat penangkaran penyu di Ketapang, Banyuwangi.

Davina (12), salah satu anak yang ikut melepas tukik terlihat senang bukan main saat penyu kecilnya lepas dari tangan dan berlari menyambut ombak. Davina baru sekali ini melihat tukik di alam bebas. Biasanya ia hanya melihatnya di akuarium.

Kegembiraan serupa tergambar di wajah anak-anak SDN Sarongan yang ikut melepas tukik. Menurut Westin Dwi, siswa kelas VI SD Sarongan, menyaksikan penyu bertelur sudah menjadi sesuatu yang langka. Karena itu ketika ada kegiatan yang berkaitan dengan penyu mereka bersemangat untuk ikut serta.

”Telur-telur penyu dibantu untuk ditetaskan kemudian saat menjelang dewasa harus dilepas agar mereka bisa hidup di alam bebas. Suatu saat kami berharap bisa melihat penyu itu kembali dan bertelur,” kata Westin yang hidup di lingkungan nelayan.

Pendiri Banyuwangi Sea Turtle Foundation Wiyanto Hadi Tanojo mengatakan, dirinya memang mengajak anak-anak untuk melepas tukik bersama agar mereka mengenal dan lebih menyayangi hewan-hewan langka itu. Kelak, saat mereka dewasa, rasa sayang terhadap lingkungan itu diharapkan mengakar di jiwa mereka.
Penyu-penyu di Meru Betiri sendiri kini terancam punah. Tak semua telur bisa menetas, atau berkembang menjadi penyu dewasa yang bisa bertelur lagi.

Telur yang baru saja dihasilkan induk kadang habis disantap hewan lain seperti babi hutan. Tidak jarang telur penyu dicuri dan diperdagangkan. Ketika telur sudah berubah menjadi tukik, tidak serta-merta mereka bisa bertahan di alam terbuka. Mereka juga kerap menjadi mangsa elang laut atau hewan lainnya.

Berdasarkan data dari Taman Nasional Meru Betiri, sepanjang tahun 2011 saja tercatat sebanyak 979 penyu yang mendarat dan bertelur di pantai Sukamade. Jumlah telur yang ditanam sebanyak 111.718 butir, namun hanya 81.023 ekor yang menetas jadi tukik. ”Dari 1.000 tukik yang dilepas mungkin hanya seekor yang bisa bertahan hingga dewasa dan kemudian bertelur lagi,” kata Bambang.

Rajegwesi menjadi bagian dari habitat penyu di Meru Betiri. Jika pantai seperti Rajegwesi tetap terjaga ekosistemnya, penyu pun tetap punya ruang hidup yang leluasa

Oleh : Siwi Yunita Cahyaningrum
Kompas 12 Juni 2012

Read more »

"SURGA" TIGA JAM DARI JAKARTA

Sejauh mata memandang tampak pohon tinggi nan rimbun. Kemudian diantaranya terhampar rumput hijau dengan latar Gunung Gede Pangrango. Di bagian lain, air terjun kecil mengalirkan air yang jernih, berkelok-kelok membelah deretan pohon Sakura yang masih malu untuk mekar.

Kebun Raya Cibodas, menyajikan pemandangan yang sungguh indah. Cuaca cerah dengan sinar mentari terik bertemu kesejukan hawa gunung. Seorang laki-laki dan perempuan menghamparkan terpal di atas rumput lalu merebahkan badan. Mereka bercengkerama, menikmati keteduhan nauangan pohon besar yang menghalangi sinar matahari.

Buat mereka yang bersantai di kebun raya yang secara administrasi berada di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, itu waktu terasa berlalu dengan perlahan. Cibodas memikat hati orang-orang dari banyak daerah, bahkan dari luar Indonesia.

"if paradise still exist on earth, Cibodas must have been part of it" (seandainya masih ada surga di bumi ini, maka Cibodas pastilah bagian daripadanya). Begitulah komentar Dr FW Went 1903, ahli fisiologi tumbuhan kelahiran Belanda tahun 1903 yang pernah bermukim di Indonesia, seperti kerap dikutip dalam aneka situs perjalanan.

Penilaian Went tidak berlebihan. Hal itu bisa dirasakan ketika mengunjungi Kebun Raya Cibodas. Kawasan ini menyajikan keindahan alam dan kesejukan udara yang melenakan. Cocok untuk liburan bersama keluarga sambil mengenal kekayaan alam Sang Pencipta.

Lelah dan penat berkendara karena kepadatan arus lalu lintas sepanjang jalur Puncak terbayarkan. Perhatian akan beralih pada hamparan perdu, rerimbunan pohon, sungai, air terjun, jalan berbatu, taman lumut, dan danau-danau bersih.

Membasuh muka dengan aliran air Curug Cibogo yang dingin dan jernih, yang mengalir di antara taman sakura, sungguh menyergarkan. Berikutnya pengunjung bisa menikmati pemandangan akar-akar pohon yang mencakar bumi, berdiri kokoh memanjang mulai dari Wisma Tamu.

"Pohon ini sudah ada sejak tahun 1800-an," kata Tatang dari humas Kebun Raya Cibodas seraya menunjuk jajaran pohon Araucaria.

Dibuka 1852
Kebun Raya Cibodas, yang berada di area seluas 84,99 hektar, dibuka pada 11 April 1852 oleh Johanes Ellias Teijsman, warga negara Belanda. Lokasi kebun raya, sekitar 100 kilometer dari Jakarta, bisa ditempuh dengan wakut 3 jam jika arus lalu lintas tidak padat. Namun di akhir pekan, waktu tempuh bisa jauh lebih lama karena antrean kendaraan di jalur Puncak.

Kebun Raya Cibodas berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango pada ketinggian 1.300 meter sampai 1.425 meter dari permukaan laut. Kebun raya ini memiliki koleksi 1.293 jenis tanaman, 144 jenis lumut, 734 jenis biji-bijian, dan 1.826 herbarium. Selain untuk tujuan wisata, kebun ini , juga berfungsi  sebagai tempat konservasi, penelitian, dan pendidikan lingkungan.

Tidak hanya keindahan lanskap, kebun raya ini menyajikan keindahan lengkap. Pengunjung dapat menikmati Taman Rhododendron yang berisi koleksi dari Indonesia, Jepang, dan China. Di dekat Curug Cibogo, terdapat taman sakura yang dilengkapi koleksi dari Himalaya. Jika Anda ingin melihat bunga ini mekar, datanglah pada bulan Januari sampai Februari atau bulan Agustus sampai September.

Sentuhan tangan kreatif melengkapi keindahan alami berupa jalan air, taman lumut, dan jalan berbatu. Di samping taman lumut, ada koleksi bunga bangkai hasil eksplorasi di Jambi tahun 2000.

Selain indah, kawasan ini relatif bisa terjangkau semua kalangan karena tiket masuk yang murah. Bagi Anda yang tertarik bermalam di kawasan ini, pengelola menyediakan penginapan tidak jauh dari taman lumut dan pepohonan yang menjulang tinggi.

Ada dua wisma tamu dengan lima kamar tidur dan sembilan kamar tidur yang bisa disewa per kamar atau keseluruhan dengan biaya Rp.250.000 - Rp.2.250.000. Wisma tamu itu merupakan renovasi dari bangunan kuno peninggalan masa kolonial Belanda.

Anda tertarik

Oleh: Andy Riza Hidayat dan Antony Lee
Sumber : Kompas, 26 Mei 2012

Read more »

JEJAK MAJAPAHIT DI ARGOPURO



Berkunjung  ke Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, belum lengkap jika anda belum menelusuri lereng Gunung Argopuro. Di sini tersebar peninggalan sejarah Majapahit pada abad ke-14 termasuk diantaranya Candi Kedaton, pusat pertapaan penganut Hindu sekte Syiwa. Punden berundak turut melengkapi pesona alam sekitar.

Embusan angin dingin mengiringi perjalanan kami pada suatu sore awal Maret lalu. Jalan aspal kampong selebar 2-3 meter menjadi titian di antara jurang terjal yang mengapit di kanan-kiri jalan Gunung Argopuro.

Beberapa kali kami harus menahan napas. Detik-detik mendebarkan terjadi setiap berpapasan dengan truk-truk besar pengangkut batang-batang sengon dan sapi perah.

Pohon durian, manggis, dan sengon menemani hampir sepanjang perjalanan naik turun dan berkelok di Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, salah satu wilayah di lereng barat laut Gunung Argopuro.

Di tepi Jalan Raya Kedaton, desa Andungsari, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, kami harus melanjutkan perjalan dengan berjalan kaki sejauh 1 kilometer.

Meniti jalan setapak menembus rumpun tanaman kopi sambil mendengarkan gemericik air sungai, membuat hati yang semula berdebar-debar menjadi damai.

Di ujung jalan tampak sebuah candi yang sudah tidak lagi utuh. Tubuh dan pemuncaknya tak terlihat. Tersisa kaki dan batur (alas) candi. Candi di Kedaton ini diketahui berasal dari masa akhir Majapahit abad ke-14.

Meski begitu, keelokan candi yang disebut Candi Kedaton itu tidak turut hilang. Hampir ditiga sisinya terdapat cerita relief yang menyimpan misteri masa lalu, yaitu kisah Arjunawiwaha di sisi Barat, kisah Garudeya di sisi Selatan, dan kisah Bhomantaka di sisi timur. Semua kisah tersebut terkait dengan kehidupan pertapaan atau karesian.

“Keberadaan candi ini menjadi salah satu penanda penting kawasan di Lereng Argopuro ini. Daerah sini dahulu bisa dibilang merupakan kawasan pertapaan atau karesian dan bisa jadi juga merupakan suatu kawasan otonom kecil yang keberadaannya diperhitungkan oleh penguasa Majapahit.” Tutur sejarawan dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono.

Pada zamannya, daerah tersebut diduga menjadi pusat aktivitas masyarakat Hindu, khususnya sekte Syiwa. Perkembangan agama Hindu sekte Syiwa ditunjukkan pada relief batur candi Kedaton sebelah kiri, yang menggambarkan kisah Arjunawiwaha. Di mana seseorang pertapa telanjang bertemu dengan Arjuna. Ini dipercaya merupakan salah satu budaya ekstrem Hindu Syiwa kala itu, di mana untuk bertemu dewata harus melakukan tindakan ekstrem seperti telanjang atau menyerahkan bagian tubuhnya untuk persembahan bagi  dewa.

Di seberang Candi Kedaton, melewati Sungai Tekong (berjarak lebih kurang 1 kilometer), pernah ditemukan arca Bima dengan ketinggian lebih dari dua meter. Kini arca tersebut disimpan di Museum Trowulan Mojokerto.

Menurut Dwi Cahyono, lingga besar seperti itu biasanya berada di pusat kota atau pemerintahan. Lingga merupakan sumber kekuatan magis suatu kerajaan.

“Diduga dahulu kawasan Tiris dan sekitarnya merupakan pusat peradaban Probolinggo kala itu. Bukan saja karena adanya Candi Kedaton dan arca Bima besar, melainkan di daerah sepanjang lereng Argopuro ini banyak ditemukan punden berundak sebagai salah satu peninggalan zaman megalitik, “ ujarnya.

Bahkan menurut Dwi, ramainya peninggalan sejarah di kawasan Tiris dan sekitarnya – Candi Kedaton, temuan arca Bima, punden berundak di Lereng Argopuro – dimungkinkan menjadi latar belakang penamaan Probolinggo. Nama Probolinggo diduga berasal dari kata prabha (sinar) dan lingga (dewa, dalam hal ini Syiwa). Orang setempat mengartikan Probolinggo sebagai tempat yang bersinar.

Turun dari wilayah pengunungan dengan ketinggian 600 meter di atas permukaan laut (mdpl), melewati jalan berkelok kea rah utara lebih kurang 22 kilometer, sampailah kita di wilayah pesisir pantai utara Jawa, tepatnya di daerah pajarakan.

Pajarakan pernah menjadi kota penting pada masa Majapahit. Dalam Pararaton dan Kidung Sorandaka, wilayah ini disebut menjadi benteng Mpu Nambi (Patih Amangkubhumi pertama Majapahit era Jayanegara). Benteng ini pula yang pada tahun 1316 Masehi dihancurleburkan oleh Majapahit karena Nambi dinilai memberontak terhadap Majapahit. Sayangnya sisa benteng Pajarakan ini hingga kini belum ditemukan.

Ke timur lebih kurang 5 kilometer, terdapat Candi Jabung. Candi ini juga merupakan salah satu penanda penting era Majapahit. Candi yang terletak di Desa Jabungcandi, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo ini menjadi salah satu Hayam Wuruk saat ia menempuh perjalanan ke wilayah timur pada tahun 1359 Masehi.

Singgahnya Hayam Wuruk oleh sebagian orang juga dianggap menjadi dasar penamaan Probolinggo, yaitu berasal dari kata prabu (raja) dan linggih (duduk atau berada).

Candi Jabung dibuat dari bata merah. Ukuran panjang candi 13,11 meter dan lebar 9,58 meter serta tinggi 15,58 meter. Candi berdiri pada lahan 35 x 40 meter dan setelah pemugaran lahan yang diperluas menjadi 20.042 meter persegi.

Candi ini dalam Kitab Negarakertagama pupuh XXXI menjadi salah satu persinggahan Raja Hayam Wuruk saat melakukan perjalanan ke timur. Rute Pajarakan – Jabung – Bremi – Tiris sampai Lumajang  merupakan rute utama zaman klasik di wilayah yang kini disebut Probolinggo.

Era kolonial Belanda
Perkembangan zaman terus terjadi. Pada era colonial Belanda, Tiris – Pajarakan – Jabung tak lagi menjadi pusat peradaban. Pemerintah kolonial, demi kepentingan ekonomi, akhirnya menjadikan wilayah barat, tepat di sekitar garis pantai, menjadi pusat pemerintahan. Wilayah ini sekarang berkembang menjadi kota Probolinggo.

Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo menjadi pintu masuk dan keluar berbagai produk hasil bumi yang akan dibawa ke Belanda. Pelabuhan ini menjadi sentra akhir terkumpulnya barang dari sejumlah daerah hinterland seperti Lumajang dan Jember.

Keberadaan Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo bahkan dipercaya jauh lebih awal bila dibandingkan dengan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Seiring dengan arti penting pelabuhan, pemerintah colonial Belanda mulai mengembangkan kawasan tersebut menjadi pusat kota. Dibangunlah beragam gedung. Termasuk gedung-gedung sekolah. Era colonial, Probolinggo dikenal sebagai Kota Perguruan. Ada beberapa sekolah dibangun masa itu, seperti Kwekschool (Sekolah guru) yang dibangun pada tahun 1875, OSVIA (Sekolah calon pamong praja), Normaalschool (Sekolah guru bantu), MULO ( Sekolah menengah pertama untuk orang berada), dan sejumlah sekolah Kristen.

“Di Probolinggo juga dibangun sejumlah industry, seperti Pabrik Kertas Letjes pada tahun 1939 dan pabrik shellac (bahan pelitur kayu),” ujar Ade Sidik Permana, Koordinator Museum Kota Probolinggo.

Masih demi kepentingan ekonomi, dibangun pula pabrik trem di sini. Trem difungsikan untuk angkutan orang dan barang kala itu. Probolinggo terus bersolek memancarkan prabha (sinar)-nya dari Lereng Argopuro.

Oleh : Dahlia Irawati
Kompas, 3 April 2012 

Read more »

Wisata Sehat di Sekitar Jakarta





Mungkin sudah sejak berminggu-minggu yang lalu Anda mencari-cari tempat mengisi liburan bagi anak-anak. Selain ke luar kota, sebenarnya di sekitar Jakarta masih ada tempat-tempat yang cukup asyik untuk mengisi waktu libur tanpa harus melulu ke mal. Ayo kita susuri....

Mencari alternatif tempat mengisi liburan bagi anak-anakdi sekitar Jakarta yang sehat dan mendidik mungkin memang tidak rnudah. Namun, bukan berarti tak ada sama sekali.

Kesadaran warga kota untuk tidak melulu mengajak anak-anak ke mal sebenarnya sudah terus tumbuh. Kesadaran ini lalu bersambut dengan munculnya sejumlah tempat alternatif tmtuk wahana bermain anak-anak. Salah satunya adalah Telaga Arwana Cibubur.

“Lagi fieldtrip di sini, seru flying fox-nya,” kata Altha (8), Kamis (4/6) di Taman Rekreasi dan Edukasi Telaga Arwana Cibubur (TAC).

Keringat membasahi seragaim pramuka yang dikenakan Aitha, siswa kelas IIB SD Islam Harapan Bunda, Pondok Pinang Jakarta Selatan. Merasa kegerahan,Altha melepas sepatunya dan kembali berlari bersama teman-temannya berlomba mencapai wahana lain di taman rekreasi yang terletak di Jalan Jambore 005/06 Harjarmukti Pondok Rangon, Cibubur, Bogor.

Kalau Aitha begitu terobsesi dengan flying fox, Almi (8) memekik seru ketika berbasah-basah di empang. Dengan jaring di tangan, Airni berteriak-teriak tampak geram dan senang berlarian di dalam kolam bertabrakan dengan sesama temannya yang berlomba menangkap ikan.

Sukses membuat seluruh tubuh basah kuyup dan satu ikan dijaring, 50 siswa dari SD Islam Harapan Bunda berebut meminta para pemandu di TAC membungkus ikan mereka.

Cukup pakai plastik saja, tetapi jangan lupa diberi air yang cukup dan ikat kuat agar tidak tumpah atau terlepas ikannya. Almi pun menenteng si ikan dengan senyum mengembang di wajahnya.

Favorit Anak Sekolah

TAC memang terbilang pendatang anyar di dunia tempat wisata untuk anak dan keluarga. Baru pada Januari 2009 TAC resmi dibuka. Namun setiap hari selalu saja ada rombongan siswa, rombongan karyawan perusahaan , maupun keluarga-keluarga yang beraktivitas sambil berlibur di sini.

Rombongan Altha dan Almi hanya satu dari ratusan rombongan siswa dari banyak sekolah di Jakarta, terutama Jakarta Timur dan Jakrata Selatan, yang memilih TAC untuk mendukung program pendidikan edutainment. Mereka dikenalkan bagaimana bekerja sama dalam outbound mini, mengenal tanaman padi yang selama ini hanya diketahui sebagai nasi terhidang di meja makan. Tertawa, berkeringat, dan tentu saja melewatkan waktu bersama. Pengetahuan didapat, pikiran anak-anak pun cerah.

Menuju TAC dari arah Jakarta mudah saja. Keluar Jalan Tol Cibubur, arahkan kendaraan Anda hingga mencapai SPBU Petronas. Belok kiri tepat di tengah-tengah antara SPBU dan Perumahan Mahogany. TAC terletak di sisi sebelah kiri jalan.

Lahan parkir yang luas menyambut pengunjung saat memasuki kompleks TAC seluas

84 hektar. Setiap satu mobil wajib membayar Rp 5.000. Wahana-wahana terpapar di depan mata, tinggal pilh saja mau flying fox, menangkap ikan di kolam, outbound mini, pemancingan, saung sawah, berperahu, menuntun kerbau membajak sawah, memacu ATV, atau menikmati hidangan di Gubug Makan Mang Engking.

“Tiket setiap wahana bisa dibeli Iangsung di tempat. Harga tiket Rp 10.000-Rp 25.000. Kalau rombongan, lebih pas kalau memilih paket program khusus untuk siswa TK hingga SMA. Orang-orang dewasa yang mau outing juga kami sediakan programnya,” kata Widodo, Wakil Manajer Operasional TAC.

Wahana dan fasilitas outbound di TAC dikembangkan oleh Hamardian yang bertindak sebagai manajer operasional. Hamardian atau akrab dipanggil Aca ini sudah berpengalaman dalam bidang outbound.

Ia memiliki dan mengelola Arena Outbound Ragunan, Kampoeng Outbound kota Wisata Cibubur, dan Arena Outbound Wulandira Serang.

Bagi penggemar arwana, TAC menyuguhkan peternakan Arwana Super Red. Dengan tiket Rp 50.000 per orang, pengunjung dipersilakan melihat langsung penangkanan arwana jenis red dragon yang banyak diekspor ke luar negeri.

Nah, tertarik? Tempat-tempat seperti TAC ini setidaknya mengingatkan orang urban untuk sekali-kali turun tanah dan berkeringat....


Sumber : Kompas 06/06/2009
Foto : Kompas
(NELl TRIANA)

Read more »

MENIKMATI LEMON CUI DI PASIR MUKTI


Sekelompok anak Singapura diminta menggambar seekor ayam. Ternyata, yang mereka gambar adalah ayam goreng. Walah-walah... Apa gerangan yang terjadi pada mereka? Yang pasti, mengajak mereka untuk lebih mendekatkan diri pada alam, seperti yang mereka alami di Kebon Wisata Pasir Mukti, adalah tindakan tepat. Tujuannya, agar mereka lebih mengenal alam dan isinya, yang mungkin kurang mereka dapatkan di negerinya yang mungil dan modern itu.
Di Kebon Wisata Pasir Mukti yang buka tiap hari pukul 08.00 - 18.00, termasuk di hari libur nasional, ini kita memang diajak untuk mengenal alam, flora dan fauna yang hidup di atasnya. Selain menikmati aneka dendrobium, phalaenopsis, oncidium, cattleya, Serta aneka tanaman hias Iainnya yang memikat mata, kita juga bisa menyaksikan angsa, bebek, entok, dan tiktok (blasteran bebek-entok). Atau, bersantai-ria di kolam pemancingan berisi ikan mas, nila, gurame, dan patin. Bisa sembari memancing atau sekadar memberi pakan satwa air di dalamnya.

Banyak pilihan menikmati wisata agro yang kebanyakan didatangi para pelajar TK dan SD ini. Bisa perorangan dengan tiket masuk seharga Rp.12.000,-, termasuk minuman selamat datang Lemon Cui, ke kolam pancing, serta menyaksikan peragaan menangani anggrek (pukul 11.00-12.00) dan tabulampot (tanama buah dalam pot, pukul 13.00 - 14.00). Bisa pula memilih paket wisata seharga Rp 55.000 per orang (minimal 20 orang). Dengan paket itu, kita bisa mengikuti frutiwok, mengenali berbagai tanaman, unggas, dan ikan tadi; bermain di kolam lumpur untuk menangkap belut; serta permainan tank tambang, gebuk bantal, lomba lari, dan menanam padi.
Bila hendak menginap, tersedia paket mulai Rp 150,000,- per orang dengan berkemah minimal 20 orang yang diisi dengan atraksi memandikan sapi, membajak sawah, memetik sayur dan petualangan malam hari. Kita juga bisa menginap di salah satu dari sembilan pondokan dengan biaya Rp 850.000~ per orang (untuk lima orang). Biaya itu sudah termasuk pemanduan wisata, menikmati ayam bakar rica atau ikan woku, dan hiburan kolintang di hari-hari tertentu.
Yang berjiwa petualang di alam bisa mencoba paint ball, bermain perang-perangan atau “Kami menyebutnya Play Hard, Dye Hard,” kata Andi Sri Noor (Vera) yang menangani administrasi marketing. Ada enam paket kita yang ditawarkan mulai Rp 10.000,- per orang.
Sebelum pulang, kita bisa membeli oleh-oleh “maskot” Pasir Mukti: jeruk Lemon Cui atau jeruk kasturi, jeruk kunci (Bangka) atau jeruk kalamanji (Filipina) dalam bentuk segar atau yang sudah jadi sirup dan selai
Kebun wisata seluas kira kira 50 ha ini dapat dicapai sekitar 45 menit dari Jakarta melalui jalan tol Jagorawi. Bila menggunakan mobil pribadi, kita keluar di gerbang tol Citeurep menuju ke arah Cibinong. Dari Cibinong kemudian kita arahkan ke Bogor. Bila mengganakan kendaraan umum, dari Jakarta menuju Cibinong menggunakan bus (dari UKI), bus kota Mayasari Bakti (dari Grogol) atau bus 3/4 jurusan Citeureup (dari Kampung Rambutan). Dari Cibinong kita bisa melanjutkan penjalanan dengan ojek atau angkot 08 (jurusan Citeureup - Pasar Anyar, Bogor). Sedangkan dari Bogor kita bisa menggunakan angkot 08 jurusan Citeureup dan turun langsung di depan Kebun Wisata Pasir Mukti.
Untuk informasi tarif masuk yang terkini bisa menghubungi :
Kebon Wisata Pasir Mukti
Jln. Raya Tajur Pasirmukti Km 4
Citeureup, Bogor
TeIp.; 02 1-87943864, 87943865
Sumber : Majalah Intisari
Christ

Read more »

POELANG KAMPOENG KE CINANGNENG


Membuat boneka daun singkong ternyata tak kalah menarik dari mendandani boneka Barbie. Memandikan kerbau di sungai ternyata juga asyik sekali! Kehdupan keseharian anak desa yang mendekatkan pada anak kota itu bisa kita temui di HB Garden Guest House, Kampoeng Wisata Cinangneng (KWC), Ciampea, Bogor.

Saking mengasyikkannya, kegiatan di kampung wisata itu sedang membuat anak-anak enggan beranjak dari Sungai Cinangneng walau waktu 15 menit yang disediakan sudah berakhir. Mereka berkah-kali mengelus-ngelus dan menyiramkan air sungai kembali ke tubuh kerbau yang dikendalikan penggembalanya. Sebelumnya, mereka juga diajak bertanam padi. Tujuannya „Agar anak-anak tahu dan menghargai bahwa nasi putih yang terhidang adalah jerih payah petani sejak menanam benih di lumpur,” ujar Hester Basuki yang merintis wisata unik ini.

Ada lima paket wisata kampung yang ditawarkan, dari yang tanpa menginap sampai yang menginap. Biayanya mulai Rp 50.000 per orang. Yang terbanyak dinikmati adalah paket Poelang Kampoeng dengan biaya Rp 95.000,- per orang, dengan jumlah
peserta minimal 20 orang. Paket ini mencakup keliling kampung sekitar, belajar menanam padi, aneka permainan anak desa, kesenian Sunda, dan memandikan kerbau plus kudapan ringan dan makan siang menu khas Sunda di piring bambu beralas daun pisang.

Peserta anak-anak akan dibagi dalam beberapa kelompok, masing-masing terdiri atas 10 orang yang didampingi oleh seorang pemandu. Tiap kelompok akan menikmati semuanya secara bergiliran. Mereka bisa bermain angklung, gamelan, membuat wayang daun singkong, peragaan membuat tahu, dan melukis caping yang boleh dibawa pulang. Mereka juga bisa berkeliling kampung menyeberangi jembatan serta melihat kolam ikan dan memberi mereka pelet ikan yang dapat dibeli dengan harga Rp.300,- per kantong.

Mereka juga diajak ke industri jaket pengendara motor, tas dan anyaman kirai dari kulit pohon semacam sagu. Karena Ibu Eci, si pemilik industri itu, hanya bisa berbahasa Sunda, pemandu menjelaskan “Awalnya semua kulit berwarna hijau. Untuk mendapatkan warna cokelat, dijemu selama tiga hari. Sedangkan warna hitam didapatkan dengan merendamnya dalam lumpur selama lima hari” Ibu Eci hanya perlu waktu sehari untuk menganyam kirai sebesar 4 x 6 m.

Dalam lingkungan KWC juga ada gerai Pak Saim, perajin obor, egrang batok kelapa, dan tiang lampu dari bambu, Pengunjung bisa melihatnya bekerja dan membeli hasil karyanya sebagai cendera mata.

KWC mudah dicapai. Pengguna kendaraan umum bisa mencapainya dari terminal Baranangsiang Bogor, naik angkot 03 (rute Baranangsiang - Bubulak), lalu dilanjutkan dengan angkot 05 (rute Bubulak - Ciampea). Kita turun di Mbah Bengket lalu naik ojek sampai di Kampoeng Wisata. Atau, naik angkot 03, sampai di Pasar Laladon. Perjalanan dilanjutkan dengan angkot jurusan Situdaon dan turun tepat di muka KampoengWisata.

Dengan kendaraan pribadi, KWC bisa dicapai lebih mudah lagi. Dari kota Bogor kita arahkan mobil ke Darmaga. Sekitar 1 km dari kampus IPB ke arah Ciampea/Leuwiliang, di kiri jalan kita akan menemukan papan nama yang menunjukkan lokasi KWC. Dengan mengikuti penunjuk arah itu, kita akan sampai di KWC

HB Garden Guest House
Kampoeng Wisata Cinangneng
Jln. Babakan Kemang RT 01/02 Cihideung
Udik, Ciampea, Bogor 16620
TeIp.: 0251-621895 Fax 0251-621897

Christ
Sumber : Majalah Intisari
Foto : Majalah Intisari

Read more »

Popular Posts

counter