KEHANGATAN TEH GUNUNG MAS

Cairan coklat keemasan tembus pandang mengucur dari teko porselen putih memenuhi cangkir-cangkir kecil. Asap mengepul menebar wangi aroma teh hitam yang menentramkan. Nun di sana hamparan kebun teh membentang berbatasan dengan kaki langit. Duhai segarnya. Pikiran, tubuh, dan jiwa serasa dibawa kedamaian surga.

Teh hitam yang disajikan panas itu merupakan menu utama di kafe sederhana di tengah Perkebunan Teh Gunung Mas di Jalan Raya Puncak Kilometer 87, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kafe ini hanya dikelilingi dinding kayu setinggi satu meter, selebihnya dibiarkan terbuka.

Bersandar di kursi ditemani secakir teh, merasakan semilir angin menerobos tanpa halangan menyentuh tubuh. Jangang lupa pesan kudapan pendamping. Di sini ada pisang goreng, dan tahu goreng yang pas untuk menentramkan lambung seusai berkendara 2-3 jam dari Jakarta menuju Gunung Mas.

Teh hitam asli hasil pemrosesan pucuk-pucuk daun teh di perkebunan ini merupakan ciri khas Gunung Mas. Dikemas dan diberi nama Black Tea Walini. Teh ini merupakan produk unggulan disamping teh hijau, teh organik, teh dengan aroma lemon ataupun jahe, dan produk dengan label merek Teh Gunung Mas, Teh Goalpara, dan Teh Sedap. Inilah teh asli Indonesia dengan cita rasa dan aroma kuat.

Masih merasa asing dengan teh produksi kebun Gunung Mas? Mungkin sebagian masyarakat mengenalnya ketika menyesap Teh Lipton atau Sara Lee. Dua produk teh asing itu sudah sejak lama menggunakan bahan baku dari Gunung Mas.

Mungkin pula belum banyak orang tahu soal teh hitam. Di China, Taiwan, Korea, dan Jepang, masyarakatny biasa menyebut teh hitam sebagai teh merah atau kocha/hongcha dalam bahasa setempat. Penyebutan ini sesuai dengan warna merah yang terjadi ketika teh hitam diseduh dengan air panas.

Teh hitam dibuat dari pucuk daun teh segar yang dibiarkan menjadi layu sebelum digulung, kemudian dipanaskan, dan dikeringkan. Teh hitam disebut juga teh fermentasi.

Dari berbagai sumber disebutkan, teh hitam jika dikonsumsi rutin efektif menurunkan kadar kolesterol hingga 69 persen. Ia pun bermanfaat untuk mengurangi penyakit jantung koroner, kanker, diabetes, dan stroke.

Puaskan diri
Mumpung sedang berada di Gunung Mas, tidak ada salahnya memuaskan diri menikmati teh hitan, Setidaknya ada dua kafe yang menyediakan teh hitam siap minum sepanjang pagi sampai menjelang malam. Makanan ringan dan berat pun tersedia.

Agar lebih lama meniikmati teh hitam, bermalamlah. Menurut petugas umum Agrowisata Gunung Mas, di antara hamparan kebun teh, disediakan kamar-kamar seharga Rp.400.000 - Rp.500.000 per malam. Ada juga tipe bungalo untuk 4-28 orang seharga Rp.605.000 - Rp.1,5 juta permalam. Kalau memilih lebih dekat dengan alam, Gunung Mas memilik lahan khusus kemping.

Rombongan besar lebih dari 50 orang pun dilayani. Mulai dari aula, sistem suara, sampai panggung sudah ada. Biar tidak kecewa, ada baiknya memesan kamar, bungalo, atau aula jauh hari sebelum mengunjungi Gunung Mas.

Baju santai, sepatu olahraga, pakaian berenang, dan sepeda jangan sampai tak dibawa. Gunakan waktu luang untuk bermain bola, tenis, atau voli di lapangan yang ada dan manfaatkan kolam renang Tirta Mas.

Di pagi hari, daripada berselimut mengusir dingin, coba saja paket tea walk. Ada juga jalur sepeda di jalan setapak di antara hamparan teh, Tersedia beberapa pilihan, lintasan pendek di sekitar komplek Gunung Mas, atau rute panjang yang menembus sampai ke dekat Taman Safari.

Seusai sarapan, waktu yang tepat untuk menjelajah. Rasakan pengalaman berbeda dengan mengunjungi pabrik teh. Bisa dilihat proses pemilahan daun teh hingga memasak menjadi teh siap seduh. Begitu keluar pabrik, masih tercium aroma teh di baju. Duh harumnya.

Kenangan
Dalam situs resmi PT Perkebunan Nasional VIII yang mengelola Perkebunan Teh Gunung Mas disebutkan, perusahaan perkebunan milik negara di Jawa Barat dan Banten berasal dari perusahaan perkebunan milik Pemerintah Belanda. Pasca kemerdekaan, perkebunan diserahkan secara otomatis kepada Pemerintah Indonesia.

Antara tahun  1957 dan 1990-an  dilakukan beberapa kali reorganisasi dan restrukturisasi pengelola perkebunan. Di Jawa Barat, sedikitnya terdapat 68 kebun aneka tanama, termasuk teh, yang harus dikelola pemerintah.

Sumber : Neli Triana /  Antony Lee
Kompas, 11 Juni 2011

Popular Posts

counter